Pekan Tafsir VIII UKM JQH Al-Mizan : Dari Arena Kompetisi hingga Malam Semesta Tafsir

Di kampus, banyak kegiatan lahir sekadar untuk menggugurkan kalender organisasi. Acara datang dan pergi, menyisakan dokumentasi serta ucapan terima kasih yang cepat tenggelam di linimasa media sosial. Tetapi tidak semua kegiatan selesai begitu saja. Sebagian tumbuh menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, tradisi, dan manusia yang ingin terus belajar memahami hidup melalui cahaya wahyu.

‎Itulah yang sedang dihidupkan oleh Divisi Tafsir UKM JQH Al-Mizan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui kegiatan Pekan Tafsir VIII Tahun 2026. Sebuah program tahunan yang bukan hanya menjaga denyut keilmuan Al-Qur’an, tetapi juga merawat ikatan emosional antaranggota, pengurus, hingga para sesepuh yang pernah bertumbuh di rumah bernama Al-Mizan.

‎Tahun ini, Pekan Tafsir hadir dengan warna yang berbeda. Jika sebelumnya lebih banyak berfokus pada kajian dan penguatan intelektual, periode kali ini memilih langkah yang lebih kompetitif. Sebuah arena yang oleh panitia disebut sebagai “cek ombak” kemampuan anggota : mengukur sejauh mana ilmu yang dipelajari mampu dipertanggungjawabkan dalam ruang perlombaan.

‎Pada 14 Februari 2026, Pekan Tafsir Competition digelar khusus bagi anggota Divisi Tafsir UKM JQH Al-Mizan. Kompetisi ini menjadi ruang adu ketajaman nalar sekaligus keberanian tampil. Ada lomba MQK Fathul Qorib, ada pula lomba Cerdas Cermat NANAS (Nahwu dan Shorof) yang selama ini dikenal sebagai disiplin ilmu yang sering membuat dahi berkerut panjang.

‎Namun di tangan para anggota Al-Mizan, ilmu-ilmu itu tidak dibiarkan menjadi sekadar hafalan kaidah. Ia diubah menjadi semangat bertumbuh bersama. Riuh kompetisi bukan sekadar soal menang dan kalah, melainkan tentang bagaimana ilmu dipelajari dengan gembira, lalu dirawat dengan kebersamaan.

‎Dan seperti kehidupan yang tidak melulu tentang perlombaan, Pekan Tafsir pun tidak berhenti pada kompetisi.

‎Rangkaian kegiatan itu ditutup dengan sebuah momentum yang diberi nama Malam Semesta Tafsir. Sebuah nama yang terdengar puitis, tetapi justru menemukan maknanya ketika Ramadan datang menyelimuti suasana.

‎Dilaksanakan pada 28 Februari 2026 di Masjid Al-Barokah Demangan, Malam Semesta Tafsir menjadi ruang perjumpaan yang lebih hangat dan lebih manusiawi. Bukan lagi tentang siapa paling unggul di atas panggung lomba, melainkan bagaimana Al-Qur’an dihadirkan sebagai cahaya yang menyatukan banyak hati.

‎Malam itu, panggung utama justru diisi oleh anggota Divisi Tafsir sendiri. Abdul Rahman bin Auf menyampaikan kultum dengan nuansa reflektif Ramadan. Firdaus M. Ramadhan melantunkan tilawah yang membuat suasana masjid terasa syahdu. Sementara pembacaan Rotib Haddad oleh Syauqi Sirojuddin menjadi penanda bahwa tradisi spiritual masih hidup di tengah generasi muda kampus.

‎Di malam yang sama, hadiah para pemenang Pekan Tafsir Competition turut diserahkan. Sebuah simbol sederhana bahwa apresiasi terhadap ilmu tetap penting, tetapi harus selalu dibingkai dengan keberkahan dan kebersamaan.

‎Puncak acara berlangsung saat buka bersama menyatu dengan jamaah Masjid Al-Barokah. Tidak ada sekat antara mahasiswa, masyarakat, maupun para tamu yang hadir. Semua duduk dalam satu hamparan kebersamaan seolah mengingatkan bahwa dakwah paling kuat sering kali lahir dari meja makan yang mempertemukan banyak manusia.

‎Kemudian suasana semakin khidmat ketika mauidhoh hasanah disampaikan oleh Prof. Dr. KH.Abdul Mustaqim S, Ag., M.Agdengan tema “Cahaya Al-Qur’an : Aktualisasi Mahasiswa dalam Bingkai Dakwah Kemasyarakatan.”

‎Tema itu terasa relevan di tengah zaman yang bergerak cepat. Ketika mahasiswa sering dipaksa memilih antara intelektualitas atau kebermanfaatan sosial, Pekan Tafsir justru mencoba mempertemukan keduanya. Bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup berhenti di ruang diskusi dan lembar kitab, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian sosial, akhlak, dan keberanian hadir di tengah masyarakat.

‎Pada akhirnya, Pekan Tafsir VIII bukan hanya tentang lomba tafsir atau agenda organisasi tahunan. Ia adalah upaya kecil menjaga cahaya agar tetap menyala. Di tengah dunia yang semakin bising, kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa ilmu tetap membutuhkan ruang untuk dirayakan dengan kompetisi, dengan silaturahmi, dengan doa, dan dengan kebersamaan.

‎Sebab tafsir sejatinya bukan hanya soal memahami ayat. Tetapi juga tentang belajar membaca kehidupan.