Grand Opening Miladiyyah XXVII UKM JQH Al-Mizan Hadirkan Refleksi Budaya di Zaman Algoritma

Di zaman ketika layar gawai lebih sering menjadi jendela pengetahuan daripada lembar buku, pertanyaan tentang akar budaya menjadi semakin relevan. Teknologi berkembang begitu cepat, sementara manusia kerap berjalan tergesa mengikuti arah yang ditentukan algoritma. Di tengah situasi itulah UKM JQH al Mizanmengajak generasi muda untuk berhenti sejenak, merenung, dan menengok kembali akar yang selama ini menopang identitasnya.

‎Momentum itu hadir dalam Grand Opening Miladiyyah XXVII UKM JQH al Mizan yang digelar melalui Talkshow Reflektif bertajuk “Akar Budaya dalam Arus Digital: Refleksi Budaya, Literasi, dan Dakwah di Zaman Algoritma.” Bukan sekadar seremoni pembuka rangkaian hari lahir organisasi, forum ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, pengetahuan, dan tantangan masa depan.

‎Hadir sebagai narasumber, KH Muhammad Jadul Maula dan Ahmad Ali Adhim. Dua sosok yang datang dari ruang yang berbeda, tetapi berbicara tentang kegelisahan yang sama yakni bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah derasnya arus digital.

‎KH Jadul Maula mengingatkan bahwa agama dan budaya bukanlah dua kutub yang saling berhadapan. Dalam sejarah panjang Nusantara, Islam justru tumbuh melalui dialog dengan budaya masyarakat. Tradisi menjadi jalan masuk bagi nilai-nilai keislaman untuk diterima secara damai dan membumi. Karena itu, menurutnya, budaya tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi agama, melainkan sebagai ruang tempat nilai-nilai agama menemukan bentuk hidupnya dalam keseharian masyarakat. Pandangan tersebut menjadi penting ketika dunia digital kerap menghadirkan cara pandang yang serba cepat dan instan. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat sering kali kehilangan kesempatan untuk memahami konteks, sejarah, dan akar dari suatu pengetahuan. Akibatnya, yang muncul bukan kedalaman pemahaman, melainkan sekadar lalu lintas opini yang bergerak cepat dari satu layar ke layar lainnya.

‎Kegelisahan serupa disampaikan oleh Ali Adhim. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah wajah dakwah secara signifikan. Hari ini, algoritma menentukan apa yang dilihat, dibaca, dan didengar oleh masyarakat. Tidak sedikit konten keagamaan yang akhirnya berlomba mengejar popularitas, jumlah tayangan, dan viralitas. Padahal, tantangan terbesar dakwah bukanlah soal menjangkau sebanyak mungkin audiens, melainkan memastikan pesan yang disampaikan tetap memiliki kedalaman makna. ‎Di tengah budaya digital yang serba cepat, dakwah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memanfaatkan teknologi. Ia memerlukan etika, literasi, dan tanggung jawab. Sebab teknologi hanyalah alat, sementara arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia yang mengoperasikannya.

‎Dari dua perspektif tersebut, lahirlah satu pesan yang kuat. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia tercabut dari akar budayanya. Literasi menjadi kebutuhan yang semakin mendesak agar masyarakat mampu memilah informasi, memahami konteks, dan tidak mudah hanyut dalam arus narasi yang dangkal. Di saat yang sama, tradisi dan budaya tetap perlu dirawat sebagai sumber kebijaksanaan yang memberi arah dalam menghadapi perubahan zaman.

‎Miladiyyah XXVII UKM JQH Al-Mizan pada intinyatidak hanya berbicara tentang usia organisasi yang bertambah. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia tetap membutuhkan pijakan. Sebab tanpa akar, kemajuan hanya akan menjadi perjalanan yang kehilangan arah. Dan tanpa kebudayaan, teknologi berisiko membawa manusia jauh dari dirinya sendiri.

‎Rangkaian Grand Opening Miladiyyah XXVII UKM JQH Al-Mizan hari pertama ini yang berlangsung pada 20 April 2026 tidak hanya menghadirkan talkshow reflektif, tetapi juga membuka Pameran Nasional Kaligrafi yang diselenggarakan di Selasar Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mengusung tema “Bumi”, pameran ini menghadirkan beragam karya kaligrafi yang merefleksikan hubungan manusia, alam, dan nilai-nilai ketuhanan. Melalui goresan huruf-huruf yang artistik, para seniman diajak untuk menerjemahkan makna bumi sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga, dirawat, dan disyukuri.

‎Keberadaan pameran tersebut seolah menjadi pengejawantahan dari tema besar miladiyyah tahun ini. Jika talkshow mengajak peserta merefleksikan akar budaya di tengah derasnya arus algoritma, maka pameran kaligrafi menghadirkan refleksi itu dalam bentuk visual. Di antara lalu lalang pengunjung dan hiruk-pikuk dunia digital, karya-karya yang terpajang menawarkan ruang kontemplasi: bahwa kemajuan zaman tidak semestinya memutus hubungan manusia dengan tradisi, seni, dan kesadaran akan bumi yang menjadi tempat berpijak bersama.