Khotmil Qur’an dan Malam Rahmat Miladiyyah UKM JQH Al Mizan
YOGYAKARTA — Perayaan Miladiyyah UKM JQH Al-Mizan tidak berhenti pada seremoni hari lahir semata. Di tengah rangkaian agenda yang telah berlangsung, 23 April 2026 menjadi momen yang menghadirkan suasana berbeda, lebih khidmat, lebih teduh, sekaligus mengajak setiap hadirin kembali mendekat kepada Al-Qur’an.
Sejak pagi hari, lantunan ayat-ayat suci telah memenuhi ruang kegiatan melalui Simaan Al-Qur’an yang dipandu oleh Divisi Tahfidz. Para peserta bergantian menyetorkan hafalan dan menyimak bacaan, menciptakan suasana yang tidak hanya sarat dengan nuansa spiritual, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi keilmuan Al-Qur’an yang selama ini menjadi ruh perjalanan Al-Mizan.
Di tengah arus kehidupan kampus yang bergerak cepat, simaan menjadi pengingat bahwa menjaga hafalan bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ikhtiar merawat hubungan dengan Kalamullah.
Memasuki malam hari, suasana semakin semarak dengan penyelenggaraan Khotmil Qur’an dan Malam Rahmat sebagai puncak acara. Kegiatan dibuka dengan penampilan Klasik Putri dari Divisi Sholawat yang menghadirkan alunan syair penuh keteduhan. Irama yang mengalun perlahan seolah mengantar hadirin memasuki ruang perenungan, sebelum rangkaian acara inti dimulai.
Prosesi Khotmil Qur’an kemudian menjadi titik yang paling dinantikan. Para wisudawan dan wisudawati tahfidz tampil sebagai bagian dari perjalanan panjang menghafal dan menjaga ayat-ayat Al-Qur’an. Momen tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas capaian para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi simbol bahwa proses belajar tidak berhenti pada pencapaian hafalan, melainkan berlanjut pada upaya mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Kekhidmatan malam itu berlanjut melalui Haflah Tilawah yang dipersembahkan oleh Divisi Tilawah. Lantunan ayat suci dengan berbagai corak lagu tilawah menghadirkan nuansa yang menggetarkan hati para hadirin. Setiap bacaan seakan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dirasakan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pembacaan Maulid serta Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Ustaz Sholeh Ilham. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para peserta untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Pesan tersebut terasa relevan bagi generasi muda yang hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi, namun tetap membutuhkan nilai-nilai spiritual sebagai kompas kehidupan.
Khotmil Qur’an dan Malam Rahmat menjadi cara Al-Mizan merayakan usia dengan jalan yang dipilihnya sendiri: bukan dengan kemeriahan yang berlebihan, melainkan dengan ayat-ayat yang dilantunkan, shalawat yang dikumandangkan, dan nasihat yang ditanamkan. Dari ruang sederhana itu, harapan-harapan kembali disemai agar Al-Qur’an tetap menemukan tempat di hati generasi muda, hari ini maupun pada tahun-tahun yang akan datang.
Di tengah banyaknya perayaan yang mudah dilupakan setelah usai, malam itu memilih meninggalkan jejak yang berbeda. Jejak yang tidak tertulis pada panggung atau dekorasi, melainkan pada hati mereka yang hadir dan mendengar. Sebab terkadang, perubahan besar tidak selalu lahir dari keramaian, tetapi dari ayat-ayat yang dibaca dengan khusyuk dan pesan-pesan yang menemukan jalannya menuju kesadaran.