Bank Qori, Arena Diam Yang Mencetak Suara Besar.

Dalam perjalanan sebuah divisi, selalu ada ruang kecil yang bekerja tanpa tepuk tangan. Ruang yang tidak banyak disorot, tetapi diam-diam merawat bibit suara yang kelak mengisi panggung besar. Di Divisi Tilawah, ruang itu bernama Bank Qori. Sebuah program kerja yang sejak awal tidak dirancang untuk keramaian, melainkan untuk ketepatan. Untuk mereka yang tidak lagi belajar dari nol, tetapi belajar untuk naik kelas. Mereka yang suaranya sudah matang, hanya tinggal diasah. yang tekniknya sudah jadi, tinggal dipertajam saja.

Bank qori bukan ruang latihan biasa. ia adalah seleksi yg tidak diumumkan tetapi dirasakan. anggotanya dipilih bukan dari banyaknya yang hadir, melainkan dari kedalaman kemampuan.

Mereka yang dipanggil kedalamnya adalah mereka yang telah menunjukkan tajamnya karakter tilawah, kemantapan dalam menerapkan lagu, serta kesiapan menaiki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. dari angkatan atas tilawah 2021 hingga 2025 nama-nama terpilih ini berkumpul dua kali tiap bulan, memasuki pembelajaran dengan sistem buka baca : tanpa contoh, tanpa pengantar, langsung bertemu ayat yang paling sulit sebagai ujian kemampuan sebenarnya.

Pada tanggal 21 November 2025 tepat padamalam hari, ruang seleksi ini kembali dibuka, kali ini di Masjid Jenderal Soedirman. Sekitar sepuluh orang terbaik hadir, wajah-wajah pilihan yang telah mahir dalam tilawah dan cakap dalam pengaplikasiannya. Mereka datang dengan kesungguhan, sementara pengujinya Ustadz Naufal Zainul Adzkiya S.Pd, M. A menjadi sosok yang menantang, mengarahkan, sekaligus menguatkan. Malam itu berjalan dengan ritme yang tenang namun intens. setiap bacaan diuji, setiap nada diuji ulang. Tidak ada yang datang untuk bermain-main, semua datang untuk naik kelas.

Namun di balik itu, inti Bank Qori tidak berhenti pada metode pelatihannya. Nilai utamanya justru lahir dari perkumpulannya. Ketika para qori dan qoriah terbaik duduk dalam satu ruangan, kualitas tidak hanya dikuatkan tetapi ia saling mempengaruhi. Yang kuat memperkuat yang lain, yang matang saling mematangkan. Latihan hanyalah perangkat, interaksi mereka adalah sumber energi yang menghidupkan. Di situlah seni berpindah, karakter terbentuk, dan standar ditinggikan.

Acara malam itu pun berjalan dengan lancar. Ada semangat belajar yang terasa seperti bara kecil, diam, namun menyala. Hasrat untuk berkembang terlihat di mata masing-masing anggota. Dan ketika sesi tilawah usai, suasana mencair dalam kehangatan makan bersama, sebuah penutup sederhana, namun cukup untuk mengikat kebersamaan mereka sebagai satu keluarga suara.

Program ini memiliki tujuan yang jelas yakni mengasah para anggota expert agar siap didelegasikan kapan saja untuk MTQ, undangan, hingga berbagai acara seremonial. Bank Qori memastikan pengurus tidak lagi kebingungan mencari nama setiap kali panggilan datang. Karena daftar itu sudah ada nama-nama yang ditempa secara rutin, dibiasakan dengan standar tinggi, dan terbiasa tampil dengan penuh ketegasan.

Target pembelajaran juga tidak sembarangan. Setiap anggota diwajibkan mampu menyusun maqro sendiri, sekaligus menguasai tujuh lagu tilawah dengan kematangan penuh. Sebab, ketika naik mimbar, yang dibutuhkan bukan hanya ketepatan bacaan, tetapi karakter. Tidak hanya fasih membaca, tetapi berwibawa menyampaikan.

Koordinator Bank Qori pun menyimpan harapan yang lebih besar. Ia ingin ruang ini bukan sekadar tempat latihan, tetapi tempat kelahiran. Kelahiran qori dan qoriah yang bukan hanya siap tampil, tetapi siap mengajar. bukan hanya siap diundang, tetapi siap mengharumkan nama instansi di panggung kompetisi tertinggi. Tempat yang menyiapkan generasi pembaca Al-Qur’an yang matang, terukur, dan berkarakter kuat.

Karena pada akhirnya, suara indah tidak datang dari bakat semata. Ia dibentuk. Ia ditempa. Dan Bank Qori adalah tempat penggodokannya, dapur sunyi tempat suara-suara terbaik melewati proses panjang sebelum akhirnya layak berdiri di panggung yang lebih besar.