Ngulik, Otak-Atik Desain. Cerita Dibalik Pelatihan Skill Media UKM JQH al Mizan
Belajar desain itu bukan sekadar buka aplikasi, pilih template, lalu selesai. Ada proses, ada logika, dan ada cara berpikir di balik setiap karya visual. Itulah yang coba dibangun dalam Pelatihan Skill Media UKM JQH Al-Mizan, sebuah ruang belajar yang mengajak anggota memahami desain dari akarnya, bukan hanya dari tampilannya.
Pelatihan ini diawali dengan pengenalan fundamental desain sebelum anggota benar-benar masuk ke Canva. Tujuannya sederhana tapi penting, yakni memberi gambaran umum tentang bagaimana proses desain bekerja secara step by step. Mulai dari menentukan hirarki informasi, mengatur teks, menyusun layout, hingga memilih warna yang saling mendukung. Dengan dasar ini, anggota tidak hanya “bisa bikin”, tapi juga tahu alasan di balik setiap keputusan visual.
Menariknya, salah satu contoh penerapan fundamental desain datang langsung dari anggota Departemen Multimedia itu sendiri. Lewat karya infografis yang ditampilkan, terlihat bagaimana ia sudah menerapkan apa yang dipelajari sejak awal. Hirarki informasi tersusun jelas, teks mudah dibaca, layout rapi, dan pemilihan warna terasa selaras. Dari situ, anggota lain bisa melihat langsung bahwa desain yang baik memang lahir dari pemahaman, bukan kebetulan.
Secara keseluruhan, anggota yang mengikuti pelatihan dari awal mulai memahami alur mendesain dengan lebih utuh. Bukan berarti mereka benar-benar mulai dari nol karena sebagian besar sudah cukup akrab dengan dunia desain, tipografi, dan visual namun pelatihan ini membantu merapikan pemahaman dan menyatukan cara berpikir dalam berkarya.
Pelatihan skill desain ini diinisiasi oleh Departemen Multimedia UKM JQH Al-Mizan dan dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam satu periode kepengurusan, yakni pada 11 November, 21 November, dan 6 Desember. Pola pelaksanaan yang bertahap ini membuat proses belajar tidak berhenti di satu pertemuan saja, melainkan berkelanjutan dan saling terhubung antar sesi.
Fokus utama pelatihan memang diarahkan pada Canva, sebuah aplikasi yang sudah sangat familiar di kalangan mahasiswa. Namun, di sinilah peran fasilitator menjadi penting. Mas Hasbil Fikri, sebagai fasilitator, melihat bahwa banyak anggota sebenarnya sudah mengenal Canva secara umum, tetapi belum sepenuhnya menggali potensinya. Maka, pelatihan ini hadir bukan sekadar mengulang hal dasar, melainkan berbagi knowledge baru bahwa Canva pun bisa digunakan untuk menghasilkan desain yang setara dengan karya profesional.
“Di sini saya sebagai fasilitator ingin meng-sharing dan memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya Canva itu bisa digunakan untuk desain yang serius dan profesional,” kurang lebih begitu semangat yang dibawa. Karena itu, sebelum praktik di Canva, anggota diajak memahami fundamental desain terlebih dahulu. Sebab, sehebat apa pun aplikasinya, desain yang baik tetap lahir dari pemahaman dasar seorang desainer.
Yang bikin pelatihan ini makin asyik, anggota juga dikenalkan dengan berbagai aplikasi yang sering dipakai dalam dunia media, seperti Canva, Affinity, dan beberapa tools lainnya. Lewat praktik langsung, anggota bisa mengeksplor fitur, mencoba berbagai gaya desain sesuai kebutuhan publikasi UKM JQH Al-Mizan. Dari yang awalnya masih ragu membuka aplikasi dan mencoba fitur-fitur baru, pelan-pelan anggota mulai berani mengotak-atik desain dan menemukan kepercayaan diri dalam berkarya.
Tak hanya soal teknis, pelatihan ini juga menjadi wadah untuk mengasah kreativitas. Anggota didorong untuk menghasilkan karya media yang lebih menarik, komunikatif, dan tetap sesuai dengan standar visual Al-Mizan. Kreatif boleh, ide liar sah-sah saja, tetapi identitas organisasi tetap nomor satu. Di sinilah anggota belajar menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan karakter visual yang ingin dibangun oleh UKM JQH Al-Mizan.
Harapan dari pelatihan ini pun tidak main-main. Output yang diinginkan bukan hanya anggota yang bisa mengoperasikan aplikasi, tetapi anggota yang memahami bagaimana seorang desainer memproduksi sebuah karya secara menyeluruh. Bahwa desain bukan sekadar urusan visual, melainkan proses berpikir, menyusun pesan, dan menyampaikannya dengan cara yang tepat.
Lebih dari itu, pelatihan ini diharapkan mampu menjadi langkah kecil untuk memajukan UKM JQH Al-Mizan. Bukan tidak mungkin, dari pelatihan sederhana ini akan lahir desainer-desainer Al-Mizan di periode-periode selanjutnya. Karya mereka kelak bisa tumbuh dan ditunjukkan melalui Departemen Multimedia yang menjadi wajah visual organisasi yang kuat, konsisten, dan berkarakter.
Karena pada akhirnya, desain memang tidak hanya soal desain. Ia adalah bahasa, identitas, dan cerminan cara sebuah organisasi berbicara kepada dunia. Dan Pelatihan Skill Media UKM JQH Al-Mizan menjadi salah satu ruang belajar untuk memahami bahasa itu bersama-sama.
Redaktur : Suci Wulandari