"Perkuat Pemahaman Kemizanan Dan Keorganisasian, Diklat Al - Mizan ke-27 Bekali Calon Anggota Dengan Berbagai Materi”
Dokumentasi Diklat Day 2
Yogyakarta - Memasuki hari kedua Diklat al - Mizan ke-27, para calon anggota mendapatkan materi mengenai kemizanan dan keorganisasian. Materi ini diberikan untuk memperkuat pemahaman mereka mengenai “Apa itu UKM JQH al - Mizan?” sebelum nantinya resmi menjadi bagian dari keluarga besar al - Mizan. Tidak hanya sebagai pengenalan organisasi, materi tersebut juga menjadi bekal awal bagi para calon anggota untuk memahami nilai serta identitas yang ada di dalam al - Mizan sebagai ruang untuk belajar dan berkembang bersama. Penyampaian materi kemizanan dan keorganisasian menjadi salah satu langkah penting dalam proses pengenalan para calon anggota terhadap al - Mizan. Melalui materi tersebut, mereka tidak hanya diajak untuk mengenal organisasi secara lebih dekat, tetapi juga memahami posisi dan peran mereka sebagai bagian dari keluarga besar al - Mizan. Pemahaman ini diharapkan dapat menjadi bekal dalam membangun komitmen serta menjalani setiap proses yang akan mereka lalui selama menjadi bagian dari al - Mizan.
Sesi materi kemizanan kali ini diisi oleh Muhammad Ainil Hana, salah satu sesepuh al - Mizan yang akrab disapa Mas Ainil. Dalam penyampaiannya, Mas Ainil mengajak para calon anggota untuk mengenal al - Mizan lebih dekat, mulai dari asal-usul nama, pengertian al - Mizan, hingga sejarah awal berdirinya. Tidak hanya itu, para calon anggota juga diperkenalkan dengan asas serta nilai-nilai yang menjadi bagian penting dalam perjalanan al - Mizan. Materi tersebut menjadi kesempatan bagi para calon anggota untuk tidak hanya mengetahui sejarah dan identitas al - Mizan, tetapi juga memahami nilai-nilai yang nantinya akan menjadi bagian dari proses mereka di dalam organisasi. Melalui pemahaman tersebut, diharapkan para calon anggota dapat menumbuhkan karakter yang selaras dengan nilai-nilai al - Mizan, khususnya nilai-nilai Islami dan semangat untuk berjiwa Qur’an.
Para peserta terlihat antusias mengikuti materi yang disampaikan. Perhatian mereka selama sesi berlangsung juga terlihat dari beberapa peserta yang mampu menjawab pertanyaan ketika diwawancarai mengenai materi kemizanan yang telah mereka dapatkan. Respons tersebut menunjukkan bahwa materi yang disampaikan tidak hanya didengarkan, tetapi juga mulai dipahami dan menarik perhatian para calon anggota. Antusiasme yang mereka tunjukkan pun menjadi gambaran awal mengenai alasan dan tujuan yang mereka bawa dalam mengikuti Diklat serta menjadi bagian dari UKM JQH al - Mizan.
Salah satunya disampaikan oleh Royan, anggota Tahfidz angkatan 26 yang turut menjadi calon anggota sekaligus peserta Diklat. Ia menceritakan kembali beberapa hal yang telah dipahaminya mengenai kemizanan, termasuk alasan yang membuatnya tertarik untuk bergabung dengan UKM JQH al - Mizan. Keinginannya untuk menemukan organisasi yang produktif menjadi salah satu alasan utama. Setelah mendapat rekomendasi dari kakak tingkat mengenai UKM yang dinilai dapat menjadi ruang produktif selama berkuliah, Royan kemudian memilih al - Mizan karena memiliki tujuan untuk mempertahankan hafalannya. Hal serupa juga dirasakan oleh calon anggota lainnya, seperti Ogi, Nadia, dan Fitri. Masing-masing memiliki alasan dan tujuan yang ingin dicapai, mulai dari mempertahankan hafalan, mencari pengalaman baru, hingga mengembangkan bakat yang telah mereka miliki. Beragam alasan tersebut menunjukkan bahwa setiap calon anggota datang dengan cerita dan tujuan masing-masing, tetapi memiliki keinginan yang sama untuk tumbuh dan berproses bersama di al - Mizan.
Selain materi kemizanan, para calon anggota juga mendapatkan materi mengenai keorganisasian untuk semakin memantapkan pemahaman mereka tentang bagaimana sebuah organisasi berjalan. Bergabung dengan UKM JQH Al - Mizan tentu bukan hanya menjadi ruang untuk mengembangkan minat dan bakat, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar memahami dinamika sebuah organisasi. Sebuah organisasi tidak hanya berjalan karena adanya pengurus dan anggota, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu mengatur setiap bagian di dalamnya agar tetap berjalan sesuai dengan visi, misi, serta tujuan dan nilai-nilai yang dibawa oleh organisasi tersebut, termasuk Al - Mizan.
Pada sesi kedua ini, materi keorganisasian disampaikan oleh Izmil Naufal Abdul Khabir. Ia menjelaskan bahwa struktur organisasi memiliki peran penting dalam menunjang keberlangsungan sebuah organisasi. Di dalam struktur tersebut, setiap bagian memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing yang saling berkaitan. Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan organisasi adalah kepemimpinan. Kehadiran seorang pemimpin dibutuhkan untuk mengarahkan sekaligus menggerakkan anggota agar dapat berjalan bersama menuju visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan. Melalui materi ini, para calon anggota diajak untuk melihat bahwa berorganisasi bukan hanya tentang menjadi bagian dari sebuah kelompok, tetapi juga tentang memahami peran, tanggung jawab, dan proses yang membuat sebuah organisasi dapat terus berjalan.
Dalam wawancara bersama para calon anggota, Nasrul turut membagikan pandangannya mengenai materi keorganisasian yang telah disampaikan. Menurutnya, organisasi dapat dipahami sebagai wadah bagi sekelompok orang yang memiliki kesamaan visi, misi, dan tujuan untuk dicapai secara bersama-sama. Ia juga membagikan pengalamannya ketika mengikuti organisasi lain dan membandingkannya dengan UKM JQH al - Mizan. Menurut Nasrul, salah satu hal yang menjadi keunggulan al - Mizan adalah nilai-nilai keagamaan dan Qur’ani yang menjadi bagian dari identitas organisasi. Selain menjadi ruang untuk memperdalam nilai-nilai keagamaan, al - Mizan juga memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk mengembangkan keterampilan sesuai dengan minat dan bidang yang mereka tekuni.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Nihaya yang turut mengulas materi keorganisasian. Baginya, kerja sama dalam kelompok dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai agama menjadi hal penting dalam menjalankan sebuah organisasi. Ia memahami bahwa berorganisasi juga dapat menjadi sarana untuk belajar mengelola diri sekaligus memahami bagaimana sebuah organisasi dijalankan, termasuk dalam hal kepemimpinan dan penyelesaian konflik. Lebih dari itu, proses berorganisasi mengajarkan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti belajar menekan ego tanpa mengorbankan prinsip hidup, mengutamakan komunikasi, serta membentuk karakter yang pantang menyerah. Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa materi keorganisasian tidak hanya berhenti pada pemahaman tentang struktur dan sistem organisasi, tetapi juga mulai dilihat sebagai proses belajar yang dapat membentuk cara berpikir, bersikap, dan bekerja bersama. Dari sinilah para calon anggota mulai memahami bahwa menjadi bagian dari al - Mizan bukan hanya tentang mengikuti sebuah organisasi, tetapi juga tentang belajar tumbuh bersama di dalamnya.
Dari dua materi yang telah disampaikan, para calon anggota tidak hanya diajak mengenal al - mizan dari sisi sejarah, nilai, dan identitasnya, tetapi juga memahami bagaimana mereka dapat mengambil bagian di dalam organisasi. Materi kemizanan menjadi bekal untuk mengenal nilai-nilai yang menjadi dasar perjalanan al - mizan, sementara keorganisasian memberikan pemahaman tentang kerja sama, tanggung jawab, kepemimpinan, dan peran setiap anggota. Keduanya menjadi bekal awal bagi para calon anggota untuk menjalani proses di al - mizan, bukan sekadar sebagai materi yang selesai disampaikan, tetapi sebagai nilai yang nantinya dapat diterapkan dan dikembangkan bersama dalam perjalanan mereka di al - mizan.