"Menelusuri Sejarah Hymne al Mizan"

Setiap organisasi memiliki identitas yang membedakannya dari yang lain. Bagi UKM JQH Al Mizan, salah satu identitas yang paling berharga adalah Hymne al Mizan. Lagu yang hingga kini terus dinyanyikan dalam berbagai kegiatan organisasi itu ternyata lahir melalui proses panjang yang sarat dengan kesungguhan, perenungan, dan nilai-nilai perjuangan. Di balik setiap baitnya, tersimpan sejarah yang tidak banyak diketahui oleh generasi al Mizan saat ini.

‎Tidak semua identitas organisasi lahir dalam bentuk yang kasatmata. Sebagian hadir melalui warna seragam, sebagian lain melalui simbol dan tradisi. Namun ada pula yang hidup dalam nada, berdiam dalam syair, lalu menetap sebagai ingatan bersama. Di UKM JQH al Mizan, identitas itu bernama Hymne al Mizan.

‎Lagu tersebut bukan sekadar pengiring acara seremonial atau pembuka sebuah kegiatan. Ia adalah penanda zaman. Sebuah karya yang lahir dari kesabaran panjang, jauh sebelum generasi hari ini mengenalnya sebagai lagu yang akrab dinyanyikan dalam berbagai momentum organisasi. Di balik lirik yang terdengar sederhana, tersimpan proses penciptaan yang tidak sederhana.

‎Menurut cerita yang diwariskan para alumni, pencipta lagu itu adalah Zainul Asir, yang akrab disapa Cak Zen. Ia tidak menulis lagu tersebut dalam sekali duduk. Tidak pula menyelesaikannya dalam satu malam yang penuh inspirasi. Justru sebaliknya. Satu hari terkadang hanya menghasilkan satu baris syair. Esoknya belum tentu mampu melanjutkan. Kata demi kata dipilih dengan hati-hati. Dinyanyikan kembali. Didengar kembali. Diperbaiki kembali. Seolah setiap kalimat harus terlebih dahulu menemukan maknanya sebelum menemukan nadanya.

‎Ada kesungguhan yang melampaui proses kreatif biasa. Dalam sejumlah cerita yang beredar di kalangan keluarga besar al Mizan, Cak Zen disebut menjalani tirakat selama proses penciptaan lagu tersebut. Puasa dan perenungan menjadi bagian dari ikhtiarnya. Sebab yang sedang dibangun bukan hanya sebuah lagu, melainkan identitas yang diharapkan mampu bertahan melampaui pergantian generasi.

‎Karena itu, syair-syair dalam Hymne al Mizan tidak disusun secara serampangan. Rima-rimanya dibangun dengan pola yang teratur. Pengulangan bunyi pada setiap akhir kalimat menghadirkan nuansa yang dekat dengan tradisi syair Arab. Di sana, keindahan bahasa tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan pesan yang ingin disampaikan. Lebih dari itu, lagu al Mizan berfungsi sebagai simbol persatuan. Ketika dinyanyikan dalam berbagai kegiatan organisasi, lagu tersebut menjadi pengingat bahwa al Mizan bukan sekadar wadah aktivitas mahasiswa, melainkan rumah bersama yang dibangun atas semangat keilmuan Al-Qur’an, persaudaraan, dan pengabdian. Setiap baitnya seolah mengajak para kader untuk mengingat kembali akar sejarah organisasi yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya.

‎Maka tak mengherankan jika lagu ini kemudian menjadi salah satu simbol terkuat al Mizan. Ketika dilantunkan bersama, ia menghadirkan lebih dari sekadar harmoni suara. Ia mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu irama yang sama. Menghubungkan para pendiri, alumni, dan kader yang mungkin tak pernah saling bertemu, tetapi dipersatukan oleh syair yang sama.

‎Seiring berjalannya waktu, beberapa bagian lagu mungkin mengalami penyesuaian dalam aransemen maupun tempo. Namun, para pendahulu menegaskan bahwa perubahan kecil tidak menjadi persoalan selama ruh dan pakem utamanya tetap terjaga. Sebab yang paling penting bukan hanya bagaimana lagu itu dinyanyikan, melainkan bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup di hati setiap keluarga besar al Mizan.

‎Di tengah pergantian generasi dan perubahan zaman, Hymne al Mizan tetap menjadi penjaga ingatan. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mempertemukan para pendiri dengan kader-kader yang mungkin tak pernah mengenal mereka secara langsung. Melalui syair dan nada, sejarah itu terus berbicara, mengingatkan bahwa setiap langkah al Mizan berdiri di atas warisan yang telah dirintis dengan penuh ketulusan.

Kolom Terpopuler