Napas Ibadah: Belajar dari Sahal Bin Abdullah Al-Tustari

Napas Ibadah: Belajar Dari Sahal Bin Abdullah Al-Tustari

Oleh: Ar Rasyid Fajar Nasrullah (Div. Tafsir ’18 UKM JQH al-Mizan)

Sahal bin Abdullah al-Tustari, bernama lengkap Abu Muhammad Sahal bin Abdullah bin Yunus bin ‘Isa bin Abdullah bin Rafi’ al-Tustari. Beliau dilahirkan di Tustar, salah satu daerah di Thwar, Ahwaz, Iran pada tahun 200 H, tetapi ada juga yang mengatakan pada tahun 203 H. Beliau hidup pada kisaran abad ke-3 hijriyah, abad yang banyak melahirkan para ulama dalam berbagai ilmu.[1] Selama masa mudanya, pada tahun 203 H/ 818 M sampai beberapa waktu setelah beliau naik haji ke Mekkah pada tahun 219 H/ 834 M, Sahal menerima pendidikan dasar dan spiritual langsung dari guru belajarnya, Muhammad bin Sawwar, guru instrukturnya Hamzah al-‘Abbadani dan juga guru mistiknya yang terkenal Zun al-Nun al-Misri.[2] Sahal juga berguru kepada pamannya yaitu Khalid Muhammad bin Sawwar. Pada suatu ketika Imam Sahal melihat gurunya itu sedang khusyu’ beribadah dan bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam. Hal ini membuat Sahal terkesan, sehingga ia senang melaksanakan ibadah tersebut.

Pada suatu hari, pamannya berkata pada Sahal, “Wahai Sahal! Apakah kamu tidak ingat kepada Tuhanmu yang menciptakan? Berdzikirlah!” Sahal berkata, “Wahai pamanku! Bagaimana caranya aku untuk mengingat Allah dan berdzikir?” Pamannya berkata : “Ucapkanlah zikir dengan membaca Allahu syahidi, Allahu ma’i, Allahu nazhiri ilayya”. [3]

Sahal berkata, “Aku membacanya tiga malam berturut-turut hingga aku mengetahui betul dengan hal tersebut. Kemudian paman menyuruhku untuk membacanya tujuh kali dalam sehari dan aku amalkan hingga aku sudah memahami hal tersebut. Sedang beberapa tahun kemudian paman berkata kepadaku: “Jagalah apa yang telah aku ajarkan dan bacalah terus menerus sampai masuk ke dalam kubur, karena hal itu sangat berguna dunia dan akhirat”.

Sahal mengamalkan hal tersebut selama beberapa tahun lamanya hinga merasakan manisnya ibadah, kemanisan ibadah tersebut memenuhi anggota tubuhnya dan dapat menguasai seluruh nafasnya. Hal itu mampu ia rasakan karena dia selalu ingat dan melatih diri untuk selalu dzikir kepada Allah, hingga bacaan dzikir tersebut menjadi wirid harian bagaikan santapan yang harus dimakan.[4] Sahal selalu menyendiri dan menghindar dari maksiat, hari-harinya dipenuhi dengan ibadah, tahajud dan dzikir kepada Allah, padahal waktu itu beliau baru berumur 6 tahun, dan belum pergi untuk belajar menuntut ilmu.

Lalu beliau disuruh pergi belajar dan disyaratkan hanya satu jam saja dalam sehari, agar dzikir dan ibadahnya tidak ketinggalan dan otaknya tidak tercampur hingga kacau. Beliaupun melakukannya hingga beliau dilimpahi kebaikan yang sangat banyak, merasuk ke dalam hati. Beliau hafal al-Qur’an dan paham tentang pelajaran. Beliau cukup dengan makan satu potong roti saja dan terkadang sedikit daripada itu.

Pada usia 13 tahun, Sahal mengalami krisis spiritual dalam bentuk pertanyaan mendalam yang terus menerus mengganggunya. Beliau pun pergi ke pulau Abbadan pada tahun 216 H/ 831 M untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya, di tempat inilah beliau bertemu dengan Abu Habib Hamza bin Abd Allah al-Abbadani. Kemudian dari Abu Habiblah yang pada akhirnya dapat memberikan al-Tustari[5] jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya. Sahal al-Tustari pun menetap dengan Abu Habib untuk beberapa waktu, dalam rangka memperoleh manfaat dari pengetahuannya dan melatih diri dalam cara-cara adab sufi.[6]

Setelah periode pelatihan dibawah seorang guru spiritual, Sahal kembali ke kota asalnya, Tustar. Tidak lama kemudian, ia mengadakan beberapa perjalanan, termasuk perjalanan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 219 H/ 834 M. Sebagaimana Sarraj di dalam kitabnya al- Luma’ fi al-Tashawwuf mengomentari bahwa peristiwa haji ini dilakukan oleh Sahal hanya sekali saja seumur hidupnya, sehingga Sarraj menyebutnya dengan sebutan haji Islam (hajj al-Islam). Kenyataan ini menandai perbedaannya dengan para sufi lain yang lazimnya melakukan haji berkali-kali selama hidup mereka.[7]

Ketika melakukan ziarah ke Mekkah pada tahun 219 H/ 834 M inilah, Sahal pertama kali bertemu dengan Zun al-Nun al-Misri (wafat. 245 H/ 860 M). Pengaruh Zun al-Nun al-Misri ini terasa sangatlah penting, terutama dalam mengajari hal tawakkal kepada Allah yang merupakan salah satu doktrin utama Sahal dalam menjelaskan tafsir Qur’annya.[8] Pengaruh Zun al-Nun al-Misri yang cukup dominan ini berbuah pada tumbuhnya sikap hormat Sahal terhadap teman sejawatnya ini, yang bagi sebagian kalangan disebut pula sebagai guru Sahal al-Tustari. Sebagaimana ditunjukan melalui sikap Sahal yang enggan menerima murid sampai Zun al-Nun al-Misri meninggal dunia pada tahun 246 H/ 861 M. Saat kematian Zun al-Nun dikabarkan, akhirnya Sahal al-Tustari memulai membuka diri untuk mengajarkan ilmunya kepada para pengikutnya.[9]

Setelah mendapatkan ilmu sesuai dengan kehendak Allah, beliau kembali ke Negeri Tustar hingga terkenal sebagai ulama yang zuhud, rajin beribadah dan tahajud. Kemudian beliau selalu bepergian ke segala penjuru, ke berbagai belahan negeri dan kampung. Beliau banyak bertemu dengan para ulama dan para wali.[10] Beliau banyak mengambil faedah dari para ulama dan gurunya tersebut. Beliau berperilaku sebagaimana petunjuk mereka dan mengambil ilmu dengan belajar talaki kepada mereka hingga beliau mendapatkan ilmu syariah yang benar. Beliau melakukan perjalanan terus-menerus hingga beberapa tahun lamanya, kemudian kembali ke Tustar dengan membawa cahaya yang penuh dari Allah SWT. Lalu beliau memulai dakwah dan mengajak manusia kepada hidayah dan kebenaran.

Sahal tidak menganggap keajaiban atau kharismanya sebagai sesuatu yang perlu dibanggakan. Sebagai contoh, ketika terjadi sebuah insiden seorang muadzin masjid yang jatuh lalu tenggelam di air dan akhirnya atas izin Allah SWT, Sahal berhasil menyelamatkannya. Saat iru Sahal menyelamatkan dengan berjalan di atas air. Ketika ditanya bagaimana seseorang bisa mencapai peringkat karunia seperti itu, ia menjawab, “Siapa pun yang berpantang dari dunia selama 40 hari pada iman yang benar dan ketulusan, akan memiliki karunia karismatik (karamat) yang dianugerahkan kepadanya dari Tuhan, karena Yang Maha Kuasa dan Maha Agung adalah Dia. Jadi, jika (hadiah tersebut) tidak didapatkan oleh orang itu adalah karena kurangnya iman yang benar dan ketulusannya sehingga tertolak.[11]

Selain itu, Sahal juga memiliki beberapa pengetahuan tentang obat-obatan, namun diceritakan bahwa selama 30 tahun beliau selalu menggunakannya untuk mengobati orang lain, sementara untuk dirinya sendiri tidak dia obati padahal beliau juga sedang menderita sakit.[12] Adapun beberapa karya Sahal al-Tustari diantaranya adalah:1.) Tafsir al-Qur’an al-Azim, 2.) Daqa’iq al-Muhibbin, 3.) Mawa’iz al-Arifin, 4.) Jawabat Ahlu al-Yaqin, 5.) Qasasul al-Anbiya, 6.) Hadza Fadlan ‘an Tafsir Masyhur, 7.) Al-Gayatu Li Ahli al-Nihayah, 8.) Al-Ma’aradatu Wa al-Raddu ‘Ala Ahli al-Farui wa Ahli al-Da’awi, 9.) Fahmu al-Qur’an al-Karim, 10.) Risalatu Fi al-Hurufi.

Editor: Maryani


[1] Gerhard Bowering, The Mystical Vision of Existence in Classical Islam (The Qur’anic Hermeneutics of the Sufi Sahl At-Tustari, (Berlin, New York : de Gruyter, 1979), hal.7

[2] Gerhard Bowering, The Mystical Vision of Existence in Classical Islam... hal. 43

[3] Gerhard Bowering, The Mystical Vision of Existence in Classical Islam... hal. 51

[4] Gerhard Bowering, The Mystical Vision of Existence in Classical Islam... hal. 52

[5] Perubahan nama panggilan dari Sahal menjadi al-Tustari penulis lakukan untuk memudahkan pembaca dalam memahami biografi Sahal al-Tustari, lebih tepatnya hal ini berubah ketika ia belum berguru dengan sebutan Sahal dan ketika setelah berguru dengan panggilan barunya yakni al-Tustari.

[6] Annabel Keeler, Tafsir al-Tustari (Great Commentaries on the Holy Qur’an), (Jordan, Amman> Royal Aal al-Bayt, 2011), hal. xvi

[7] M. Anwar Syarifuddin, “Otoritas penafsiran sufistik Sahl al-Tustar”i, Vol. 2, No. 1, 2007, hal. 139.

[8] Annabel Keeler, Tafsir al-Tustari... hlm. Xvi.

[9] M. Anwar Syarifuddin, “Otoritas penafsiran sufistik Sahl al-Tustar”i... hlm. 140

[10] Mani’ Abd Halim Mahmud. Metodologi Tafsir... hlm. 53

[11] Annabel Keeler and Ali Keeler, Tafsir al-Tustari... hlm. xx.

[12] Annabel Keeler and Ali Keeler, Tafsir al-Tustari... hlm. Xxi.