Khazanah Tafsir Nusantara: (Mengenal Kitab Tafsir Marah Labid Karangan Syekh Nawawi Banten)

Al-Qurra/Edisi 02

Khazanah Tafsir Nusantara: (Mengenal Kitab Tafsir Marah Labid Karangan Syekh Nawawi Banten)

Oleh : Rahman Fauzi
Mizanuna Tafsir 2022

Telah banyak ulama nusantara yang mengarang kitab tafsir, salah satunya yaitu Syekh Nawawi Banten. Nama lengkap beliau adalah Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Ibn Umar al-Tanara al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H, dan beliau wafat pada 25 Syawal 1314 H/1897 M di usia 82 tahun. Syekh Nawawi merupakan seorang ulama yang namanya sudah termasyhur di kalangan umat Islam baik di Timur Tengah maupun di Asia khususnya di Indonesia.

Profil dan Latar Belakang Penulisan

Syekh Nawawi menulis kitab tafsirnya berbahasa arab. Beliau menamai tafsirnya dengan nama Marah Labid li Kasyfi ma’na al-Qur’an majid, lalu setelah itu dinamai juga al-Tafsir al-Munir li Ma’alim al-Tanzil. Di Indonesia lebih terkenal dengan nama al-Tafsir al-Munir. Karya ini tercatat sebagai salah satu karya tafsir di dalam dunia Islam yang ditulis pada abad 19 Masehi selain tafsir al-Manar karangan Syekh Muhammad Abduh dari Mesir. Kitab ini merupakan karya tafsir al-Qur’an pertama yang ditulis dalam bahasa arab secara langsung oleh seorang ulama yang berasal dari Banten.

Latar belakang Syekh Nawawi menulis kitab tafsir tersebut ialah karena atas permintaan beberapa temannya dan dorongan guru beliau agar ia menulis sebuah kitab tafsir sewaktu berada di Mekkah. Pada awalnya beliau ragu untuk menulis kitab tafsir tersebut, karena beliau takut termasuk dalam kategori yang disabdakan Rasulullah saw:

من قال القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

Artinya: “Siapa yang menafsirkan al-Qur’an hanya dengan akalnya, maka dia telah melakukan kesalahan sekalipun benar tafsirannya”.( HR. Tirmidzi no. 2952)

Pada akhirnya, dengan ketawadhu’an dan pertimbangan pelestarian tradisi penulisan ilmu pengetahuan, beliau menyelesaikan karya besar ini.

Karakteristik dan Metode Penafsiran

Tafsir Marah Labid ditulis secara sistematis, dimulai dari surah Al-Fatihah hingga surah terakhir yaitu surah An-Nas yang terbagi dalam dua jilid. Beliau mengawali tafsirnya dengan muqaddimah, dilanjutkan oleh pembahasan-pembahasan lain. Di Muqaddimah, beliau mengawalinya dengan basmalah, hamdalah, sholawat layaknya kitab-kitab tafsir lainnya. Serta dalam Muqaddimahnya, menyebutkan latar belakang atau dasar penulisan tafsirnya, bahkan dengan kerendahan hatinya beliau menyebutkan berbagai sumber kitab-kitab tafsir yang digunakan sebagai rujukannya.[1] Dalam kitab tafsir ini, Syekh Nawawi merujuk pada beberapa kitab tafsir para ulama terdahulu. Diantaranya ialah al-Futuhat al-Ilahiyyah karya Sulaiman al-Jamal (w. 1790 M), Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi (w. 1209 M), al-Siraj al-Munir karya al-Syirbini (w. 1570), dan Irsyad al-Aql al-Salim karya Abu Saud (w.1574).[2]

Dalam menulis kitab tafsir ini, Syekh Nawawi cenderung menggunakan metode Ijmali (global) yang tergolong sebagai tafsir bil Ma’tsur. Kitab ini juga merupakan tafsir yang ringkas penjelasannya dimana penulisnya menganggap penting untuk tidak keluar dari alur konteks lafadz, menjelaskan makna dan tafsirnya, menyebutkan riwayat Qira’at, keutamaan membacanya, menyebutkan riwayat-riwayat asal yang membantu pemahaman makna serta menyebut Asbabun Nuzul[3].

Kitab ini selesai ditulis di Mekkah pada malam rabu, 5 Rabiul Akhir 1305 Hijriah yang bertepatan dengan 20 Desember 1887 Masehi. Karya ini kemudian pertama kali dicetak oleh al-Mathbaah al-Ustmaniyah (Al-Amiriyyah) di Kairo, beberapa bulan setelah selesainya kitab tafsir tersebut. Setelah itu dicetak ualng berkali-kali hingga saat ini oleh banyak penerbit, baik di Timur Tengah maupun di Nusantara.

Editor: Siti Mahmudah


[1] Ansor Bahary, Tafsir Nusantara: Studi Kritis Terhadap Marah Labid Nawawi al-Bantani, Ulul Albab Volume 16, No.2 Tahun 2015, Hlm. 184

[2] Aan Parhani, Metode Penafsiran Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsir marah labid, Tafsere Volume 1 Nomor 1 Tahun, Hlm. 14

[3] Anas Mujahiddin dan Muhammad Asror, Telaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi al-Bantani, STIU Darul Qur’an Bogor, Hlm. 86-87

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler