Indahnya Sikap Toleransi dalam Islam
Al-Qurra'/Edisi 28
Indahnya Sikap Toleransi dalam Islam
Oleh: Alisya Muthia Sari R (Div. Tafsir '21)
Telah kita ketahui bahwa Indonesia sangatlah luas dan dipenuhi dengan masyarakat yang beraneka ragam latar belakangnya, entah itu dari segi bahasa, agama, cara berpakaian maupun makanannya. “Bhineka Tunggal Ika “ tentunya tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, kalimat inilah salah satu faktor yang menjadikan Indonesia tetap bertahan hingga sekarang. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang penduduknya mayoritas muslim. Lalu adakah landasan yang lebih kuat bagi seorang muslim di Indonesia dalam bersikap toleransi dengan masyarakat yang berbeda latar belakang (agama, bahasa, dan lain-lain)?
Surat Al-kafirunsurat yang ke 109 dalam Al-Quran. Surat ini berisi kandungan tentang adanya toleransi dalam keimanan dan peribadahan. Allah SWT berfirman, "Katakanlah: 'Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku" (QS. Al-kafirun). Surat Al-kafirunmemiliki memiliki beberapa keutamaan diantaranya menjadi surat ajakan toleransi beragama, surat ini sangat terkenal karena kandungannya mengajarkan kita untuk bertoleransi antar umat beragama. Dalam kitab suci Al Quran diperintahkan untuk menghormati penganut agama lain. Seperti dalam potongan akhir ayat surattersebut yang artinya, "Untukmu agama mu dan untuk ku agamaku".
Toleransi menurut Syekh Salim bin Hilali memiliki karakteristik sebagai berikut, yaitu antara lain:
1. Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
2. Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
3. Kelemah lembutan karena kemudahan
4. Muka yang ceria karena kegembiraan
5. Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
6. Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
7. Menggampangkan dalam berdakwah ke jalan Allah tanpa basa-basi
8. Terikat dan tunduk kepada agama Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa ada rasa keberatan
Sejarah Islam adalah sejarah toleransi. Perkembangan Islam ke wilayah-wilayah luar Jazirah Arabia yang begitu cepat menunjukkan bahwa Islam dapat diterima sebagai rahmatan lil’alamin (pengayom semua manusia dan alam semesta). Ekspansi-ekspansi Islam ke Syiria, Mesir, Spanyol, Persia, Asia, dan ke seluruh dunia dilakukan melalui jalan damai. Islam tidak memaksakan agama kepada mereka (penduduk taklukan) sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran Islam itu sendiri melalui interaksi intensif dan dialog. Kondisi ini berjalan merata hingga Islam mencapai wilayah yang sangat luas ke hampir seluruh dunia dengan amat singkat dan fantastik.
Toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.
Toleransi bukan berarti mengorbankan diri sendiri. Ketika kita memberikan ruang bagi orang lain, bukan berarti mengorbankan sikap dan kepercayaan diri sendiri. Justru disinilah letaknya keindahan sebuah toleransi antar manusia apalagi antar umat beragama. Toleransi mengajarkan kita untuk terus mencerminkan sikap kuat dan istiqomah memegang prinsip dan keyakinan sendiri, sementara tetap menghargai pendapat dan pendirian orang lain tanpa menyinggung atau mengganggunya. Toleransi juga bisa digambarkan sebagai cara bersyukur menurut Islam dan cara mensyukuri nikmat Allah bahwa kita terlahir dengan berbagai perbedaan.
Editor : Amal Hayati