Peran Seni Islam di Tengah Pandemi Covid-19 dalam Rangka Taqarrub Ilallah
Al-Qurra'/Edisi 27
Peran Seni Islam di Tengah Pandemi Covid-19 dalam Rangka Taqarrub Ilallah
Oleh : Fika Irkhama (Div. Kaligrafi 2021) Pemenang 2 Lomba Essay Diklat 2021
Pandemi Covid-19 telah dirasakan oleh banyak masyarakat yang dapat memberikan dampak negatif bagi semua sektor kehidupan tidak terkecuali. Termasuk para industri kreatif dan pelaku seni. Peran pelaku seni tentu besar dalam melestarikan budaya, dengan seni dapat membentuk sikap tanggap dalam bertanggungjawab mempertahankan kelestarian budaya seni. Namun keadaan pandemi telah memicu adanya penurunan tingkat kreatifitas dan inovasi atau bahkan dapat dijadikan peluang meningkatkan kreatifitas dan tantangan untuk bertahan dalam situasi sulit selama pandemi.
Kreatifitas manusia dapat melahirkan keindahan yang sangat positif yang menjadi tolok ukur kebudayaan Indonesia, tentunya seni Islam berperan dalam mempengaruhi kejiwaan manusia. Lalu dilihat dari segi manakah peran seni Islam terutama disaat pandemi dapat menjadikan hal positif, yang dapat mendekatkan kita kepada Allah?
Beredarnya berita bahaya virus Covid-19 diberbagai media tentu dapat mempengaruhi pola pikir negatif masyarakat dalam menanggapi virus tersebut yang menjadikan daya tahan tubuh, sistem kekebalan tubuh imunitas, dan ketenangan jiwa menjadi turun. Maka dari itu perlu adanya peningkatan imunitas salah satunya dengan kreatifitas seni Islam yaitu mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an yang merdu dengan berbagai jenis lagu bayati, hijaz, nahawand dan sebagainya yang tentunya dapat meluluhkan hati pendengar dan ketika dikombinasikan dengan suatu syair yang diiringi dengan musik, tidak sedikit orang menjadikan hatinya menjadi tenang, tersentuh, damai dengan melalui suara tersebut.
Kreatifitas manusia melahirkan keindahan yang sangat positif yang menjadi tolok ukur kebudayaan Indonesia, tentunya seni Islam sangat mempengaruhi kejiwaan manusia. Seni bersifat universal yang dapat memotifasi, mencerdaskan manusia. Para seniman juga dapat menuangkan kegelisahannya melalui seni lukis yang ditunjukkan dengan adanya hasil karya sebuah kaligrafi yang sangat indah dengan berbagai macam jenis khat tentu saja ini menjadi salah satu cara pendekatan diri kepada Allah, dengan mengekspresikannya melalui ayat- ayat al-Quran, asmaul husna yang dilukis.
Islam memiliki tolok ukur untuk menilai sebuah seni, ada yang dilarang ada pula yang diperbolehkan. Al-Qur’an memandang seni adalah sesuatu yang dapat mendorong para seniman dan penikmatnya untuk melakukan suatu hal positif. Bahkan para sufi banyak yang menggunakan syi’ir dan lagu, seperti yang dilakukan oleh seorang tokoh dari Persia Jalaludin Rumi, dengan seruling dan tarian sufi dalam rangka mencapai makrifat kepada Allah.
Dikatakan oleh Dzunnun Al-Mishri (w. 856 M) seni adalah suara kebenaran yang menggetarkan hati menuju kebenaran. Barang siapa yang mendengarkannya dengan kebenaran maka ia akan tercapai, dan barangsiapa yang mendengarkannya dengan menimbulkan syahwat maka ia tersesat. Seni dinilai sebagai khazanah peradaban yang telah dimiliki Islam secara alami.
Maka, dengan mendengarkan musik yang religius, maka diri ini akan semakin mempercayai dengan hal-hal kebenaran positif maka kita telah masuk dalam pendekatan kita kepada Allah. Melalui seni semakin lembut perasaan seseorang dan bertambah iman kita kepada Allah. Seni dapat kita dengar, dapat lihat dan dapat kita rasakan, seni sulit untuk kita ungkapkan dengan kata-kata dan bahasa tetapi seni dapat kita katakan baik tidaknya tergantung dari niat, tujuan dan akhlaknya.
Editor : Amal Hayati