Bulan Suci di Tengah Pandemi

Bulan Suci di Tengah Pandemi

Oleh: Khusnul Khuluq

Bulan ramadhan selalu identik dengan puasa dan tarawih, yang keduanya terkesan melelahkan. Siang hari umat Islam diwajibkan untuk menahan lapar, haus dan juga nafsu. Serta malam hari umat Islam disunnahkan melaksanakan ibadah shalat tarawih yang terkesan melelahkan karena jumlah rakaatnya yang banyak. Namun disamping itu, bulan ramadhan memiliki berbagai keutamaan yang selalu dinantikan umat Islam. Pahala dilipatgandakan begitu banyak dalam bulan mulia ini, Al Qur’an juga diturunkan pada bulan ramadhan, dan yang paling utama adalah adanya satu malam di bulan ramadhan yang lebih baik daripada seribu bulan. Keutamaan-keutamaan itu menjadi daya tarik tersendiri untuk meningkatkan ibadah di bulan ramadhan.

Ramadhan tahun ini mungkin terasa berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Musibah yang sedang melanda dunia saat ini nampaknya sedikit memberikan dampak bagi pelaksanaan peribadatan, terutama umat Islam. Shalat jama’ah di masjid, buka bersama, pengajian-pengajian, dan kegiatan jama'ah yang lain untuk ramadhan kali ini telah dibatasi. Perantau luar kota pun banyak yang tidak bisa menikmati kebersamaan ramadhan bersama keluarga di kampung halaman. Umat Islam dihimbau untuk beribadah di rumah, perantau dihimbau tidak mudik. Semua terasa agak berbeda dari biasanya.

Semua hal tersebut terpaksa dilakukan demi mencegah mudharat yang lebih besar berupa bertambahnya korban virus yang sedang melanda dunia ini. Namun tidak semua bisa menerima bentuk pencegahan ini. Di salah satu desa di provinsi DIY, terdapat salah satu tokoh masyarakat desa yang mempunyai argumen berbeda dengan peraturan pemerintah ini. Ia berpendapat bahwa meninggalkan jamaah di masjid ataupun membuat jarak shaf dengan cara dibuat renggang itu sama saja mengalahkan perintah Allah hanya karena takut virus yang merupakan ciptaan Allah. Menurutnya semua kegiatan ramadhan harus dilaksanakan sebagaimana biasanya tanpa perlu takut dan melakukan pencegahan-pencegahan tadi.

Bulan ramadhan memang bulan mulia, banyak keutamaan di dalamnya. Keberkahan bulan ramadhan diharapkan dapat menurunkan ketegangan dan juga kondisi dunia yang sedang berduka ini. Dengan menjalankan peribadatan ramadhan sebagaimana mestinya tanpa perlu melakukan pembatasan ibadah diharapkan dapat dijadikan sebagai senjata dan tameng untuk memperbaiki kondisi dunia yang sedang terpuruk ini. Sholat jama’ah tarawih di masjid atau musholla, barisan shaf tetap rapat, pengajian, buka bersama dan semua kegiatan ramadhan lainnya dilakukan secara sempurna sebagaimana ramadhan-ramadhan yang telah lalu. Semua dilakukan secara sempurna, tanpa kurang suatu apapun untuk melawan virus covid 19.

Akan tetapi bukankah manusia diberi akal untuk berfikir, bukankah umat Islam diberikan rukhsah untuk menghadapi situasi yang sedang melanda, bukankah manusia dibekali kaidah-kaidah fiqih yang dapat digunakan untuk mencari solusi dari masalah, bukankah umat Islam punya para ulama’ yang bisa dijadikan panutan, dan bukankah pemerintah memutuskan suatu aturan keagamaan itu juga atas pertimbangan para ulama’ yang tentunya tingkat keilmuannya lebih tinggi daripada kita, dan bukankah sebagai orang mukmin kita diperintahkan untuk mentaati ulil amri.

Manusia diberikan akal untuk berfikir, untuk memahami dan untuk mengambil pelajaran dari Al Qur’an dan hadis nabi. Dalam mengambil pelajaran dari kedua sumber ilmu tersebut tidak serta merta semua orang dapat memahami secara tekstual. Perlu dilakukan pembahasan dan perenungan dari para ulama’ untuk menafsirkan dan menimbang apa yang bisa diambil untuk menyelesaikan persoalan-persoalan agama. Ramadhan memang mulia, tidak diragukan lagi keutamaan dan kemuliaannya. Akan tetapi bukankah umat islam diperintahkan untuk berikhtiar dalam menghadapi sesuatu. Orang sakit memang Allah yang menyembuhkan, akan tetapi manusia harus berikhtiar dengan cara berobat ke dokter. Itulah contoh kecilnya.

Maka dari itu, tidak sepatutnya kita ceroboh dalam betindak. Terlebih dalam hal mengandalkan tawakal semata tanpa adanya sebuah ikhtiar. Kita tetap bisa mendekatkan diri kepada Allah. Kita tetap bisa meraup pahala di bulan suci ramadhan ini. Kita tetap bisa mendapatkan keberkahan itu semua di bulan ramadhan dengan tetap mentaati peraturan pemerintah terkait pencegahan virus ini. Berbagai arahan marilah kita patuhi agar keadaan segera kembali normal, agar secepatnya kita dapat melakukan segala aktivitas dan peribadatan secara sempurna tanpa diliputi rasa takut terhadap ancaman virus yang sedang melanda saat ini.

Momentum ramadhan seperti ini marilah kita bersama-sama menambah rasa taqwa kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan ibadah sesuai dengan arahan dan protokol pencegahan dari pemerintah dan para ulama’. Janganlah kita mengedepankan masing-masing anggapan kita untuk saling memecah belah. Justru musibah seperti saat ini adalah sebagai bentuk ujian kesabaran untuk umat Islam, agar umat Islam rindu dengan masjid, rindu dengan jama’ah, dan rindu dengan kebersamaan di bulan suci ramadhan. Semoga kita tetap mendapatkan segala keutamaan ramadhan yang telah kita nantikan selama satu tahun ini. Tentunya dengan segala ikhtiar dan tawakal kita di bulan suci ramadhan ini semoga keadaan dunia segera membaik sehingga dapat beribadah dengan sempurna. Wallahu a’lam.