Tawazun Ilmiyah Santri di Era Digital

Al-Qurra/Edisi 01

Tawazun Ilmiyah Santri di Era Digital

Oleh : Ahmad Haidar Rofiif
Mizanuna Tafsir 22

“Seorang santri harus berprinsip :Jangan pernah berhenti belajar. Seorang santri harus kritis; Mampu membaca keadaan baik tekstual ataupun kontekstual. Seorang santri harus berani tidak minder : Namun harus diimbangi dengan ilmu.”

KH. Sahal Mahfudh

Ada stereotip bahwa Santri adalah kelompok muslim yang kolot dan konservatif, anti terhadap perubahan. Menurut hemat penulis premis tersebut tidaklah benar, meski faktanya memang ada jenis santri yang demikian. Mayoritas pandangan orang awam bahkan banyak yang meremehkan para santri adalah hanya sebagai orang yang ahli dalam bidang agama.

Untuk menepis stereotip tersebut santri perlu menegaskan identitasnya sebagai muslim yang kosmopolit atau multi-identitas dalam arti siap menerima dan menghadapi tantangan global. Karena fakta sejarah mengatakan bahwa santri dianggap sebagai penggerak perubahan masa depan Indonesia bahkan dunia internasional sekalipun. Pada saat ini yang dibutuhkan adalah tawazun ‘ilmiyah, keseimbangan ilmu dunia dan akhirat agar tidak tergilas zaman serta memiliki fondasi diri yang kuat agar tidak mudah tergoyahkan.

Karena sejatinya ilmu agama harus di dalami, sebab agama adalah sebuah fondasi diri sendiri. Jika fondasi orang tersebut tidak kokoh dan mudah goyang, maka ia bisa melenceng dari agama Islam dan bisa tergerus dan terbawa dampak buruk dunia yang kompleks ini. Maka dari itu sebagai manusia saat ini harus bisa mengimbangi antar ilmu dunia dengan ilmu agama.

Selain itu, tak dapat dipungkiri bahwa globalisasi ‘memaksa’ bangsa Indonesia untuk menerima berbagai macam budaya dari luar. Ditambah lagi lalu lintas informasi yang amat cepat berlalu lalang di seluruh penjuru dunia. Hal ini menyebabkan berbagai macam opini mempengaruhi paradigma masyarakat global. Untuk merespon persoalan ini berbagai jenis ormas, institusi pendidikan, lembaga sosial, dan lain sebagainya saling beriringan meluruskan opini-opini yang ada dengan wacana mereka masing-masing. Pun bagi Pondok Pesantren—sebagai salah satu lembaga tertua yang memiliki peran vital bagi proses kemerdekaan bangsa Indonesia—niscaya harus menerima tantangan ini.

Setiap Pondok Pesantren memiliki ciri khas dalam memilih takhassus (konsentrasi) bidangnya. Terdapat pondok yang memilih konsentrasi tahfidz qur’an, konsentrasi kitab kuning, konsentrasi bahasa, dan banyak lagi konsentrasi yang diajarkan sebuah pondok pesantren. Tak hanya itu, dalam kehidupan santri di pondok harus pintar-pintar mengatur skala prioritas kehidupan sehari-hari, mengatur emosi, mengatur mental, kedisiplinan, dan bertanggung jawab.

Tercatat, beberapa Pondok Pesantren telah memunculkan berbagai inovasi untuk mempersiapkan dan menjawab tantangan dunia global. Inovasi tersebut seperti penambahan porsi belajar atau perubahan kurikulum untuk pengetahuan umum guna mengimbangi pembelajaran agama Islam, sehingga tercipta keilmuan yang terintergrasi dengan dunia modern. Ciri pesantren seperti ini senantiasa mengembangkan diri dalam menyesuaikan kebutuhan ilmu yang sedang berkembang di masyarakat, tanpa meninggalkan budaya mengkaji ilmu agama yang selama ini sudah menjadi hal yang pokok dari keberadaan pondok pesantren itu sendiri.

Demikian pula program bahasa asing. Fokus bahasa yang dipelajari bukan hanya bahasa Arab, melainkan bahasa Inggris, yang notabenenya adalah bahasa dunia, karena hampir mayoritas penduduk dunia memakainya sehingga mempelajari bahasa Inggris juga suatu kebutuhan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia global. Bahkan di beberapa Pesantren juga diajarkan bahasa-bahasa lain seperti bahasa Mandarin, Perancis, dan bahasa internasional lainnya.

Dalam penguasaan terhadap ilmu teknologi, Pesantren juga tidak boleh tertinggal. Teknologi sudah menjadi hal yang bersentuhan dengan masyarakat sehari-hari. Minimal santri harus mampu mengimbangi kemampuan teknologi yang kini berkembang sehingga ketika lulus dari pondok pesantren santri tidak dianggap gagap teknologi dan ketinggalan zaman.

Perlu diketahui juga, bahwa term modern dalam dunia Islam khususnya Pesantren mengonotasikan kemajuan dalam berpikir dan keterbukaan terhadap perkembangan dunia tanpa menanggalkan kearifan. Sebab kearifan khas Pesantren adalah yang sebenarnya menjadi kunci dalam menjawab persoalan apa pun bentuknya. Hal itulah yang hendaknya diperjuangkan oleh para Kiai dan santri dalam merawat umat agar senantiasa dalam jalur selamat.

Contoh kearifan yang lestari di Pesantren adalah ta’dhim kepada guru. Rasa ta’dhim terhadap Kiai merupakan suatu hal yang sangat penting dimiliki oleh santri, tawadu’ dan tata krama seorang santri dinilai mampu menjadi salah satu faktor ilmu yang didapatkan seorang santri tersebut barokah dan manfaat. Sikap hormat santri kepada Kiai merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Kebiasaan santri yang berjalan sambil menunduk di hadapan Kiai, berebut mencium tangan kiai, menata sandal kiai bahkan memperebutkan sisa air minum kiai adalah sebagian tradisi pesantren yang masih ada hingga sekarang.

Banyak sekali cerita tentang seorang santri yang sangat sulit memahami pelajaran yang diajarkan oleh Kiainya, sehingga santri tersebut merasa lelah untuk mengikutinya. Akan tetapi, santrisantri tersebut tetap memutuskan untuk selalu menerapkan rasa ta’dhim-nya kepada Kiai. Hasilnya meskipun santri tersebut kesulitan memahami pelajaran tapi ia mampu memperbaiki akhlaknya.

Artinya, sikap ta’dhim seorang murid kepada guru-gurunya adalah salah satu faktor pendorong kesuksesan murid-muridnya. Biasanya jika santri telah lama mulazamah dengan gurunya dengan rasa ikhlas dan ta’dhim, otomatis kearifan-kearifan yang gurunya miliki secara tidak langsung ‘tertransfer’ dalam diri para santri. Kearifan semacam ini biasanya menjadi karakter kunci yang mendarah daging dalam jiwa santri.

Contoh kearifan yang lain adalah tirakat. Tirakat di dunia Pesantren biasa diidentikkan dengan menjalankan puasa dan menahan lapar, serta menjalankan amalan-amalan yang diberi oleh para mursyid atau kiai seperti doa, shalawat atau bahkan hizb. Kehidupan masyarakat dewasa ini dengan segala macam permasalahannya, bentuk kejahatan dan kemaksiatan yang semakin tak terkendali, bahkan sampai kenakalan remaja yang melewati batas kewajaran, sangat membutuhkan solusi. Sebagai agen perubahan, selain melakukan tirakat santri juga perlu membudidayakan tirakat di lingkungannya masing-masing. Kiranya, pembiasaan tirakat menjadi salah satu solusi dan jalan keluar untuk memperbaiki kembali moral masyarakat modern.

Teramat banyak yang membuktikan bahwa kualitas santri tidak bisa diragukan. Sudah banyak tokoh pemimpin di Indonesia yang berasal dari lulusan pondok. Tak hanya itu, banyak dari santri lulusan pondok yang meneruskan ke bidang profesi dan keahlian masing-masing seperti menjadi dokter, akuntan, ekonom, hukum, politikus, dan masih banyak lagi. Maka dapat disimpulkan bahwa santri lulusan pondok tidak dapat diremehkan keahlian dan keilmuannya. Santri juga bisa menjadi pemimpin yang dapat merubah dunia di masa depan. Pun, bisa menjadi penyongsong perubahan Indonesia bahkan perubahan dunia.

Tugas kita sebagai penerus bangsa adalah mencari ilmu, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu tersebut kepada banyak orang. Hal itu menjadikan kunci keberkahan dunia dan akhirat. Tidak perlu malu jika menjadi santri yang suka diremehkan. Semestinya santri bangga dan dapat membuktikan bahwa persepsi itu salah dengan aksi nyata. Bungkam mulut mereka dengan perubahan nyata.

Editor : Nisrina Zain

Kolom Terpopuler