GEMPI (Gerakan Pemudi Kartini) – Upaya Mengembalikan Nilai-Nilai Kartini yang Hilang pada Perempuan Hari Ini.
GEMPI (Gerakan Pemudi Kartini) –Upaya Mengembalikan Nilai-Nilai Kartini yang Hilang pada Perempuan Hari Ini.
Oleh :Moch Sahrul Efendi
Untuk mencapai nilai-nilai ibu Kartini, diperlukan tindakan yang selaras Siapa yang tidak kenal dengan sosok beliau, perempuan Indonesia yang terkenal sebagai pahlawan nasional, pelopor emansipasi wanita di Indonesia, beliaulah ibu Kartini. Lahir di Jepara tepatnya pada tanggal 21 April 1879. Mengutip Yakin (2020), ibu Kartini merupakan anak kelima dari Raden Mas Adipati Sosronigrat, putra dari pangeran Ario Tjondronegoro IV yang masih mempunyai jalur keturunan dengan Sultan Hamengkubuwono VI. Sekalipun terlahir di kalangan nigrat, namun tidak membuat rasa kepedulian Kartini hilang begitu saja pada seluruh rakyat. Berkat perjuangannya yang begitu besar terhadap kebebasan hak-hak perempuan Indonesia pada masa itu, membuat namanya kini menjadi sosok inspirator bagi setiap kaum hawa bagi masa depannya. Namun bagaimana dengan Kartini pada hari ini? apakah sudah selesai mengemban amanah dari Kartini terdahulu sebagai generasi penerus dari perjuangannya.
GEMPI merupakan sebuah inovasi yang berlandaskan pada pengetahuan moral yang terwujud dalam sebuah gerakan mengimplementasikan nilai-nilai ibu Kartini pada tingkah laku dan pandangan atau arah menyongsong masa depan. Maksud gerakan di sini ialah mencoba mengetahui, memahami, dan mengembangkan dengan semangat dan berkelanjutan pada penerapan nilai-nilai ibu Kartini pada saat ini dan yang akan datang. Inovasi ini muncul karena melihat fenomena sangat miris yang terjadi pada perempuan-perempuan generasi Kartini di negeri ini. Fenomena tersebut menggambarkan tingkah laku perempuan yang jauh dari nilai-nilai yang telah diajarkan oleh ibu Kartini, seperti mengumbar aurat dengan leluasa di media sosial atau pada konteks luasnya tidak menjaga kehormatan yang semestinya harus dijaga, dan sangat memungkinkan berakhir pada merendahkan atau bahkan tindakan eksploitasi seksual terhadap kaum perempuan (Suryadi dan Nurun Najwah, 2018: 68). Apakah hal ini yang terjadi di masa perjuangan ibu Kartini akan terulang kembali di masa sekarang? siapa yang akan mengembalikan kehormatan perempuan di mata masyarakat sekarang? Tentunya pemudi-pemudi generasi sekaranglah yang meneruskan perjuangannya.
GEMPI tidak terpaku kepada sebuah kelompok, akan tetapi dimaksudkan pada sebuah saran metode berupa tindakan untuk mempertahankan kodrat perempuan supaya tidak terjerumus dalam nilai-nilai yang dapat merendahkannya. Dalam tidakan tersebut sekaligus menerapkan nilai-nilai yang telah diajarkan ibu Kartini secara bertahap yang bisa sangat mudah diaplikasikan oleh tiap individu, terkhusus pada perempuan agar bisa menjadi harapan bangsa sebagai penerus generasi kartini di masa sekarang dan yang akan datang.
Berbicara perempuan saat ini, bukanlah membahas perempuan yang ada di masa terdahulu. Perempuan hari ini sudah mulai menentukan masa depannya sendiri, memilih pendidikan yang diinginkan, bekerja sesuai potensi yang telah diasah dan terus berkarya tanpa henti sesuai minta bakat yang dimiliki. Akan tetapi tidak semerta-merta meninggalkan kodrat perempuan untuk menjadi seorang istri serta ibu bagi suami dan anak-anaknya kelak. Tugas perempuan juga tidak sebatas hanya pada tugas pribadinya, namun juga pada berbagai tuntutan yang diembannya. Dari tugas itulah akan memunculkan nilai-nilai yang membuat perempuan menjadi pribadi yang mulia dan berharga.
Oleh karena itu, ada beberapa nilai yang harus dijaga. Pertama nilai kehormatan. Kehormatan perempuan bukan dinilai dari kekayaannya, namun kemampuan untuk menjaga dirinya dari perbuatan yang tidak sepantasnya. Kedua, nilai intelektual, perempuan harus memiliki kecerdasan, antara lain kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, yang ketiga-tiganya harus dimiliki oleh perempuan di masa sekarang. Ketiga, pada nilai kepribadian, ialah mempunyai kecakapan yang baik, yang tercermin dalam sifat dan tindakannya(Ilmi, 2020).
Dengan tujuan adanya nilai tersebut. Hal itu telah ditawarkan oleh GEMPI yakni dengan melakukan tindakan 4P (fourpe). Pertama, Pilihlah pergaulan yang baik – pergaulanmu akan menentukan masa depanmu, itulah slogan yang sering dipamparkan untuk para generasi muda. Pergaulan akan sangat mempengaruhi tindakan dan sikap kita. Contoh kasus sekarang tersebar berita pemudi bersama dua temannya yang sedang mengumbar aurat dengan bebas di instagram (nto, 2020). Kasus tersebut telah menunjukkan bahwa teman yang buruk moralnya akan mudah untuk mengarahkan teman lainnya kepada keburukan. Perbuatan tersebut sangatlah jauh dari nilai-nilai yang diajarkan oleh ibu Kartini. Dalam menempuh pendidikannya beliau sering bergaul dengan kaum pelajar bangsa Belanda yang pada saat itu menguasai pendidikan di Indonesia, sehingga sangat berpengaruh terhadap kecerdasan yang dimilikinya (Hartutik, Jurnal Seuneubok Lada, 2, Januari-Juni 2015: 87). Hal ini yang patut ditiru oleh perempuan di hari ini dengan memilih pergaulan yang bisa membawanya ke masa depan yang lebih cerah.
Kedua, Pilihlah sumber bacaan yang baik dan bermanfaat – bacaanmu akan menentukan wawasanmu. Di era-milenial saat ini, dengan keberadaan internet sangat mudah untuk digunakan dalam mengakses sumber bacaan yang baik nan bermanfaat. Akan tetapi di balik kemudahan tersebut, di lain sisi dimungkinkan penggunaan internet untuk hal yang bersifat negatif. Perempuan hari ini sudah tidak lagi dibingungkan dalam hal ini, semestinya mereka sudah jauh mengembangkan potensi diri mereka dengan bacaan positif mereka yang menjadi asupan tiap harinya. Seperti yang dicontohakn oleh ibu Kartini yang tiap harinya disibukkan dengan kebiasaan membaca buku, sikap tersebut dapat dilihat dengan karya beliau yang begitu banyak dan populer di masyarakat Indonesia.
Ketiga, Pintarlah dalam memanfaatkan waktu. Kebanyaakan perempuan hari ini mudah terjerumus pada hal-hal negatif karena tidak pintar dalam memanfaatkan waktu. Mereka tidak melakukan perencanaan waktu kedepannya sehingga ketika melakukan suatu kegiatan mereka merasa kebingungan, akan pasrah pada keadaan dan melakukannya dengan tidak semangat. Hal ini dikarenakan hal negatif lebih mudah untuk masuk kepada diri seseorang ketika waktu yang dimiliki tidak diisi dengan hal yang bermanfaat. Beda dengan perempuan yang sudah melakukan perencanaan untuk memanfaatkan waktunya, seperti membagi waktunya untuk belajar, ibadah, dan istirahat, sehingga ketika ada proses perencanaan seperti ini mereka tidak mudah untuk terjerumus pada hal negatif.
Keempat. Pengontrol-an diri. Perlu bagi perempuan untuk melakukan pengontrolan atas tindakan mereka, tidak semerta-merta mereka bertindak atas dasar kebebasan. Pengontrolan di sini bisa berupa permintaan saran terhadap teman, keluarga, guru atau bahkan dirinya sendiri mengenai tindakan yang akan atau telah dilakukan (selain hal prerogatif), lebih ke arah muhasabah diri. Dalam mengambil tindakan, perempuan seharusnya melakukan pengontrolan diri karena dalam agama islampun mengajarkan demikian, seperti halnya seorang istri ketika hendak melakukan sesuatu harus mendapakan izin dari suaminya terlebih dahulu. Hal ini dikhawatirkan jika perempuan bertindak atas kemauan sendiri tanpa melakukan pengontrolan diri akan memungkinkan terjerumus dalam hal yang negatif.
Ternyata perlu sebuah terobosan tindakan untuk tetap melestarikan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh ibu Kartini. Nilai tersebut jika tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari nya akan tergantikan oleh nilai-nilai yang lain, yang jauh dari harapan bangsa Indonesia. Salah satu aspek terpenting dalam kemajuan sebuah bangsa terletak pada seberapa kuat perempuan dalam menjaga dan mendidik penerus generasi bangsanya, karena al-umm merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Melalui inovasi GEMPI (Gerakan Penerus Kartini) diharapkan dapat membantu dalam upaya mengembalikan nilai-nilai kartini pada perempuan hari ini dan yang akan datang.
“Jadilah perempuan yang mewarisi nilai kartini, perempuan yang hebat, meskipun tanpa suara, namun sebenarnya penuh dengan karya”
Ibu Khofifah ( www.liputan6.com )
DAFTAR PUSTAKA
Hartutik, ”R.A Kartini : Emansipator Indonesia Awal Abad 20”, Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 2, No. 1, Januari-Juni 2015, hal. 86-96
Yakin, Moh Ainul, “Biografi Ibu Kita Kartini, Pendekar Wanita Indonesia”, www.tagar.id/biografi-ibu-kita-kartini-pendekar-wanita-indonesia diakses pada 24/04/2020 pukul 09.34.
nto, “Tiga Remaja Putri Pulpis Live Bugil di Medsos“, www.kaltengpos.co pada 24 April 2020
Suryadi dan Nurun Najwah, Perempuan dalam Literatur Hadis, Yogyakarta: Q-Media, 2018.
Ilmi, Titis Nur, “Kartini dan Nilai-Nilai Perempuan”, www.qureta.com/post/kartini-dan-nilai-nilai-perempuan diakses pada 24/04/2020 pukul 14.34.