Kesehatan Mental Perempuan Aktivis di Situasi Wabah
Kesehatan Mental Perempuan Aktivis di Situasi Wabah
Oleh: Mariana Dwi Panca Rany N. Tilawah '18
- PENDAHULUAN
Dalam situasi wabah seperti ini banyak dinamika persoalan yang dialami pada setiap orang. Tidak memandang dari kalangan paling tinggi jabatannya di dalam Negara ini maupun kalangan kecil dengan keluguannya. Hiruk pikuk yang terjadi saat ini tidak diketahui kepastiannya, kapan akan benar-benar berakhir. Banyak seragam karyawan yang nganggur tidak terpakai, bahkan siswa maupun mahasiswa yang terpaksa harus merelakan uang sakunya untuk mengerjakan tugasnya di rumah.
Banyak sekali sorotan media yang menampakkan keresahan para pencari nafkah, terutama kalangan laki-laki yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Namun, tidak banyak yang melihat kegelisahan bahkan tekanan yang dialami oleh kalangan perempuan dan ibu-ibu yang harus dituntut berperan banyak hal, sekaligus. Tidak sedikit perempuan yang setiap harinya aktif berada di luar rumah untuk bekerja maupun berorganisasi dengan lingkungan, merasa mental bahkan jiwanya sudah mulai terganggu. Bagi perempuan yang berada di ranah tersebut dituntut untuk mampu multi peran, tidak mudah bagi dirinya setiap hari harus stay at home dan memandang layar ponsel untuk menyelesaikan pekerjaan dari bos maupun tugas dari luar rumah, serta harus tetap respect dengan segala pekerjaan rumah yang tentunya tidak ringan.
Selain hal tersebut, yang menjadi pemicu munculnya mentalitas terhadap individu yaitu dengan adanya pemberitaan yang terus menerus. Akhirnya, berdampak pada gangguan psikosomatis, yang pada awalnya hanya memiliki rasa cemas, berujung menjadi kecemasan yang sangat berlebihan. Bagi perempuan aktivis tentunya bukan sesuatu yang sangat mudah, berdiam diri dan tidak bertemu orang secara langsung tentu membuat energinya semakin habis. Penyataan di atas selaras dengan pendapat Kaveh Khoshnood bahwasanya menjaga jarak dengan sosial, serta perasaan panik, akan memiliki konsekuensi kesehatan mental [Wartaekonomi.co.id]. Hal senada disampaikan oleh beberapa perempuan aktivis dari hasil wawancara yang telah dilakukan bahwasanya akibat lockdown menjadikan dirinya merasa tertekan dan dengan sedikit ruang gerak yang dimiliki namun dituntut untuk stay di depan ponsel maupun pc
karena tanggung jawab justru membuat dirinya semakin stress dan terganggu mentalitasnya.
Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi sesuatu yang lebih merugikan diri sendiri perlu adanya beberapa treatmen dari dalam dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, penulis akan membahas terkait treatment yang perlu dilakukan agar perempuan aktivis pun agar tetap menyeimbangkan kesehatan fisik maupun kesehatan mentaldirinya.
- ISI
Perempuan yang terkena dampaknya secara tidak proporsional. Krisis selalu memperburuk ketimpangan gender. Berikut akibat adanya wabah ini :
- Menetap di rumah
Bagi perempuan aktivis yang terbiasa bekerja di kantor atau di
luar tentunya bukan sesuatu yang sangat mudah, berdiam diri dan
tidak bertemu orang secara langsung. Hal tersebut membuat mereka
merasa tertekan dan ingin pergi ke kantor karena tidak bisa benarbenar fokus di rumah. Mereka mencoba menyelesaikan pekerjaan rumah dan kantor ketika kedua anaknya sedang tertidur, Ini merupakan beban untuk mereka.
- Dampak ekonomi jangka panjang
Secara keseluruhan, virus corona memiliki dampak besar pada sektor perjalanan, produksi dan konsumsi, yang berdampak pada banyak sektor dan juga ke kelompok wanita. Perempuan berpenghasilan rendah akan sangat terdampak oleh perlambatan tingkat konsumsi karena mereka cenderung dipekerjakan di industri perhotelan, ritel atau layanan lainnya. Pegawai perempuan kontrak dengan tidak adanya jaminan sosial, mereka menghadapi dilema antara kembali bekerja dan berpotensi sakit atau perlu membayar untuk bentuk lain dari akomodasi. Atau, mereka mungkin terpaksa tinggal di rumah dan hidup dari sedikit tabungan yang mereka miliki.
Kondisi ini menempatkan mereka dalam situasi yang sangat sulit. Dua hal tersebut yang membuat kesehatan mental perempuan aktivis dapat terganggu. Selain itu, wabah ini telah memicu ketidakpastian di penjuru dunia dan pemberitaan mengenai wabah ini rasanya tak kunjung mereda. Semua ini dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama bagi mereka yang sudah memiliki masalah mental bawaan seperti gangguan kecemasan atau gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan untuk perempuan aktivis.
Perbedaan kebutuhan perempuan dan laki-laki dalam upaya pemulihan jangka panjang dan menengah juga perlu dipertimbangkan. Perempuan memainkan peran yang sangat diperlukan dalam memerangi wabah - sebagai pekerja perawat kesehatan, sebagai ilmuwan dan peneliti, sebagai penggerak sosial, sebagai pembangun dan penghubung perdamaian di masyarakat, dan sebagai pengasuh. Lalu bagaimana perempuan aktivis dapat menjaga kesehatan mental? (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51717312)
- Kecemasan jangan di tekan
Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meminimalisir kecemasan di tengah situasi yang tidak menentu ini. Pertama, kita harus menerima bahwa kecemasan itu melanda semua orang secara global, bukan hanya lingkungan sekitar kita saja, sehingga kecemasan yang dirasa harus diwajarkan. Ketika kita melihat
sesuatu yang dalam takaran kewajaran, itu biasanya bisa menghilangkan efek cemas. Kalau tidak ditanamkan begitu nanti kita akan merasa jadi orang paling terpuruk karena wabah ini. (https://magdalene.co/story/jangan-tekan-kecemasan-menjaga-kesehatan-mental-di-tengah-krisis-corona)
- Batasi konsumsi berita, media sosial dan selektif terhadap bacaan Batasi waktu menonton, membaca atau mendengarkan sesuatu yang tidak akan membuat merasa lebih baik. Tentukan waktu untuk mengecek berita terbaru. Banyak misinformasi tersebar - pilih satu sumber terpercaya seperti laman resmi pemerintah atau otoritas kesehatan. Jangan sampai amygdala kita bekerja keras mengolah informasi yang hanya membuat kita takut dan terpuruk. Untuk itu juga istirahatlah dari media sosial dan menutup sumber kecemasan dengan mematikan kata kunci yang merupakan sumber kecemasan di media sosial dan bungkam kelompok percakapan percakapan dan sembunyikan unggahan di media sosial yang terlalu mengganggu.
- Aktif Bergerak
Bukan berarti di rumah hanya bisa tidur-tiduran atau menonton TV. Tapi kita tetap olahraga dengan melakukan gerakan ringan atau membersihkan rumah. Meski sekarang ini segala sesuatunya sudah dibatasi namun sebisa mungkin kita tetap fokus mengerjakan rutinitas semaksimal mungkin. Hindari terus menerus merepresi rasa cemas dalam keterpurukan. Jika memang merasa perlu konsultasi bisa menggunakan berbagai sarana layanan kesehatan daring.
- Adanya ruang diri
Penting bagi kita untuk memberi ruang diri untuk menyesuaikan dengan perubahan. Sebagian orang mungkin tidak biasa bekerja dari rumah, sehingga timbul stres saat pertama kali mencobanya. Semua rutinitas pasti akan berubah dan orang butuh menyesuaikan diri.
- Bukan akhir dari segalanya
Wabah virus corona bukan akhir dari segalanya, kita tetap bisa berkarya melalui online. Hanya saja kita membutuhkan adaptasi, jika biasanya berkarya harus keluar rumah, saat ini bisa via online.
- Menjaga hubungan sosial
Adanya sosial distancing bukan menutup diri untuk bersilaturahmi. Pada dasarnya kita makhluk sosial, jadi tetap butuh interaksi dengan orang lain. Ketika interaksi dilarang, itu salah satu sumber yang membuat stres. Dengan adanya teknologi yang membuat manusia terus terkoneksi. Jadi, tetaplah berinteraksi dengan orang
lain, dengan teman, dengan keluarga, dan tetangga. Hal ini dibutuhkan agar tidak merasa sendirian menghadapi permasalahan wabah ini.
- KESIMPULAN
Perempuan yang terbiasa melakukan aktvitas di luar rumah tentunya bukan sesuatu yang tidak mudah diterima, survey membuktikan bahwa tingkat stress yang dialami perempuan aktivis lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang tidak sering melakukan aktvitas. Dengan demikian perlu adanya manajemen terhadap diri sendiri agar tidak sampai mengalami tingkat stress yang berelebihan.