Penafsiran eksoteris dan esoteris Kitab Tafsir al Tustari
Al-Qurra'/Edisi ke-18
Penafsiran eksoteris dan esoteris Kitab Tafsir al Tustari
Oleh:Ar-Rasyid Fajar Nasrullah (Div. Tafsir ’18)
Kitab Tafsir al-Tustari adalah kitab tafsir sufi karangan Sahal bin Abdullah al-Tustari. Kitab ini merupakan kitab tafsir sufi pertama dan tertua yang bisa ditemui. Jika ditilik lebih lanjut, ada dua ragam cara penafsiran yang dapat kita temukan pada tafsir al-Tustari ini, yaitu penafsiran eksoteris dan esoteris. Pengertian eksoteris yaitu cara penafsiran dengan melihat makna zhahir yang terkandung dalam sebuah ayat. Dalam penafsiran dengan cara eksoteris maka yang akan diperhatikan untuk dianalisis diantaranya seperti bentuk kebahasaannya. Jadi, singkatnya penafsiran ayat dengan cara eksoteris adalah terfokus dengan makna lahiriyah dari ayat tersebut sehingga aspek atau makna bathin dari ayat tersebut tidak dijelaskan, karena yang demikian merupakan bentuk tafsir esoteris. Kemudian, tafsir esoteris adalah cara penafsiran yang terfokus terhadap makna bathin atau kandungan yang tersimpan dalam suatu ayat. Bentuk penafsiran dengan cara ini lebih melihat kepada sesuatu yang ada dibalik makna zhahir dari suatu ayat itu. Penafsiran semacam ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapatkan cahaya dari Allah SWT dengan segala keridhaannya.
Adapun contoh penafsiran eksoteris adalah ketika Sahal al Tustari membahas tentang QS.Ibrahim (14) ayat 25
"تؤتي اكلهاكل حين باذن ربها ويضرب الله الامثال للناس لعلهم يتذكرون"
Sahal al-Tustari berkata tentang ayat ini, Ibnu Musayyab berkata: “makna al-hiin adalah enam bulan”, kemudian seseorang pernah bertanya kepada Ibnu Musayyab dan berkata: “sesungguhnya aku telah bersumpah agar istriku tidak menemui keluarganya selama waktu tertentu al-hiin, apakah yang dimaksud dengan al-hiin tersebut? Sa’ad berkata: al-hiin bermakna durasi waktu semenjak tumbuhnya an-nakhlah (anggur kering) sampai ia menjadi basah, dan sejak ia basah sampai muncul buahnya (matang)”. Ibnu ‘Abbas r.a. berkata: “yang dimaksud dengan kullahiin adalah waktu siang dan sore”.
Mengenai metode penafsirannya, Sahal al-Tustari menyatakan dalam muqaddimah kitab tafsirnya, bahwa pada dasarnya tiap-tiap ayat itu memiliki empat makna yaitu:
- Makna zhahir adalah makna ayat yang sudah dapat terbaca lewat kosakatanya.
- Makna bathin adalah makna pemahaman yang dikandungnya.
- Hadd adalah batasan kehalalan dan keharamannya
- Matla’ adalah pemahaman yang datang dari Allah SWT yang menyebabkan hati menjadi terang kemudian terangnya hati menggiring ke pemahaman atas apa yang dikehendaki oleh ayat-ayat tersebut.
Dalam menafsirkan sebuah ayat, Sahal al-Tustari tidak serta merta menafsirkan al-Qur’an dengan cara taqlid kepada orang lain. Untuk melakukan penafsiran, Sahal al-Tustari mengumpulkan ayat al-Qur’an secara menyeluruh terlebih dahulu, kemudian ia mengkaji ayat maupun pembahasannya dengan mempertibangkan beberapa aspek, baik dari segi bahasa, syari’at, akhlak, alam, dan aspek lain yang mendukung. Selanjutnya beliau menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan kesan yang diberikan al-Qur’an kepada hatinya, dan perasaan jiwanya. Sahal al Tustari tidak mengatakan bahwa penafsirannya yang paling tepat, ataupun itulah satu-satunya tafsir yang benar.
Seperti telah dikemukakan di atas, perlu diperhatikan juga bahwa Sahal al-Tustari tidak hanya menafsirkan ayat secara bathiniyah saja, akan tetapi ia juga menjelaskan makna ayat secara lahiriyah. Bahkan tidak jarang beliau juga hanya menjelaskan makna ayat secara lahiriyah saja dan tak menjelaskan makna tersiratnya, karena beliau menganggap bahwa penjelasan ayat tersebut sudah terkenal dikalangan orang banyak.
Contoh Tafsir
Q.S.Al-Rum (30) ayat 41
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (Q.S.Al-Rum (30):41)
Sahal al-Tustari berkata: “Allah SWT. mengumpamakan anggota tubuh ini bagaikan daratan dan mengumpamakan hati bagaikan lautan. Lautan itu lebih bermanfaat dan lebih membahayakan. Inilah ungkapan secara bathin, tidakkah kamu memperhatikan bahwa hati itu dinamakan dengan al-qalb, karena artinya adalah sesuatu yang berbolak balik dan sesuatu yang terombang-ambing setelah tenggelam.
Komentar Para Ulama terhadap Sahal al-Tustari. Diantaranya adalah Ibnu al-‘Arabi pengarang kitab Futuhat al-Makiyah berkata: “Sahal al-Tustari adalah hamba Allah yang sangat rajin beribadah. Beliau belajar kepada salah satu ulama yang terkemuka. Apabila ia ditanya tentang suatu permasalahan, beliau menjawabnya dengan jawaban yang sangat menakjubkan. Beliau selalu berkhidmat kepada gurunya, beliau juga tinggal bersama gurunya itu, dan selalu mengambil faedah terhadap apa yang diakatakan gurunya, beliau juga berperilaku baik sesuai perilaku gurunya”.
Pengarang kitab Sifatu al-Aulia’ wa Marratibu al-Ashfiya berkata: “Sahal al-Tustari sudah dikenal ketika berumur 7 tahun. Beliau pergi memperluas maklumat dengan menuntut ilmu ketika berumur 9 tahun. Para ulama mendapatkan banyak permasalahan dan tidak ada jawabannya kecuali pada Sahal al-Tustari, padahal beliau ketika itu hanya berumur 11 tahun. Itulah karamat yang timbul pada beliau”.
Imam Al-Qusyairi berkata: “Sahal al-Tustari adalah salah seorang imam pada kaumnya yang tidak ada tandingannya pada masanya dalam hal muamalat dan wara’, beliau memiliki banyak karamat dan juga pernah bertemu dengan Zun al-Nun al-Misri di Mekkah ketika menunaikan ibadah haji, dan masih banyak lagi.”
Kelemahan tafsir al-Tustari diantaranya adalah karena Tustari hanya mengambil sebagian ayat dalam penafsirannya maka tidak semua ayat al-Qur’an ditafsirkan oleh al-Tustari. Kemudian, untuk ukuran karya tafsir, kitab ini tergolong kecil, yaitu hanya terdiri dari satu jilid saja. Lalu, Karena Sahal al-Tustari lebih condong pada penafsiran bathiniyahnya, maka tak jarang hanya menafsirkan potongan ayat saja serta tidak utuh. Terkadang juga Sahal al-Tustari menafsirkan suatu ayat dan memberikan makna penting, namun penjelasan makna tersebut tidak jelas.
Editor: Maryani