Tafsir Maqasidi: Model Penafsiran yang Cocok di Era Milenial

Bulletin Al-Qurra'/Edisi 24

Tafsir Maqasidi: Model Penafsiran yang Cocok di Era Milenial

Oleh: Amal Hayati (Div. Tafsir '20)

Dasar Teologis Tafsir Maqasidi

Secara bahasa tafsir al-Qur’an berarti menyingkap makna-makna al-Quran sesuai dengan kemampuan manusia. Sedangkan maqasidi secara bahasa berarti kebermaksudan. Secara istilah, tafsir maqasidi adalah salah satu penafsiran dan kecenderungan dari perspektif-perspektif tafsir yang mengkaji bagaimana menyingkap pesan-pesan rasional dan tujuan-tujuan variatif yang terpisah yang berada di seputar Al-Quran, baik secara universal atau partikular yang disertai penjelasan dalam rangka merealisasikan kemashlahatan bagi umat manusia.

Ada beberapa istilah lain dalam penyebutan tafsir maqashidi, yaitu asroru wa hikmat (أسرار و حكمة) yang berarti rahasia-rahasia syariat; ahdzaf (أهذاف) yang berarti tujuan dan ma’quliyat al-syari’at (معقلية الشريعة) yang berarti rasionalitas syariah untuk menjelaskan rasionalitas al-Quran. Dasar teologis dari tafsir maqasidi adalah Q.S. Thaha ayat 2, QS. Al-Isra ayat 9 dan QS. Al-Anbiya ayat 107.

Fokus dari tafsir maqasidi ini tidak hanya pada hal yang partikular saja, namun juga sampai kepada ‘whyness’ atau mengapa melaksanakan sesuatu yang diperintahkan dalam teks Al-Quran dan apa maksud serta tujuan yang diinginkan dari pelaksanaan hal tersebut.

Tujuan Tafsir Maqasidi

Sedangkan dalam tujuannya, tafsir maqasidi sendiri memiliki beberapa bagian. Pertama, untuk menunjukkan maksud dan tujuan di balik teks-teks keagamaan. Contohnya adalah perintah untuk makan dan minum tetapi dilarang secara berlebihan. Hal ini bertujuan sebagai hifdz al-nafs karena ada efek samping jika makan dan minum secara berlebihan. Sehingga tidak menyediakan ruang lain untuk bernafas atau udara.

Tujuan tafsir maqashidi yang kedua adalah untuk menjelaskan dimensi rasionalitas teks agama atau ma’quliyat al-nushush al-diniyyat wa ta’alimiha. Ketiga, melengkapi metode-metode tafsir yang ada dan belum mencerminkan dimensi maqasidiyah. Contohnya adalah penta’wilan al-Qur’an.

Keempat, menjadi jembatan epistemologi antara teks al-Quran dan realitas supaya sambung menyambung dan terkesan tidak terpisah. Contohnya, ada sebuah teks al-Quran yang memerintahkan untuk masuk Islam secara kaffah atau keseluruhan. Hal ini masih sekedar terjemahan tekstualis. Dan yang seharusnya dipahami adalah bagaimana implementasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Bukan berarti harus meniru secara keseluruhan Islam dan sistemnya seperti sistem pemerintahannya.

Contoh Penerapan

Banyak sekali ayat di dalam al-Quran yang dapat ditafsirkan dengan metode tafsir maqasidi. Berikut adalah contoh sederhana dari tafsir maqasidi, yaitu ayat tentang pakaian dalam QS. Al-A’raf: 26

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْر

Maksud dari ayat ini adalah fungsi pakaian untuk menutup aurat. Namun disebutkan juga bahwa pakaian yang paling baik adalah pakaian takwa. Dalam konteks tafsir maqasidi, maksud takwa tersebut adalah semacam inner beauty yaitu apa yang sebenarnya meliputi dalam diri seseorang, bagaimana perilakunya terhadap orang lain.

Tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Seperti yang telah dijelaskan di awal tadi bahwa dalam tafsir maqasidi harus sampai pada pertanyaan mengapa hal tersebut diperintahkan. Dalam contoh ini, maka pertanyaan yang muncul adalah mengapa diperintahkan untuk berpakaian juga apa maksud dan tujuan dari berpakaian.

Jawaban dari pertanyaan tersebut ialah: Pertama adalah untuk menutup aurat. Kedua, untuk memproteksi diri dari panas dan dingin (QS. An-Nahl: 81). Ketiga, berpakaian yang indah merupakan nilai estetika yang harus dimiliki setiap diri manusia, seperti keserasian pakaian dan kecocokan pakaian yang dipakai pada acara tertentu (QS. Al-A’raf: 31).

Dalam penafsiran menggunakan metode tafsir maqasidi tidak terbatas hanya pada ayat ahkam saja. Namun dapat meluas hingga ke jenis-jenis ayat yang lain, seperti ayat-ayat kisah. Contoh tafsir maqasidi dari suatu ayat kisah adalah ayat tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Adam dan Hawa ketika berada di surga yaitu dengan mendekati pohon yang terlarang yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 35

Cocok untuk Era Milenial

Tafsir maqasidi dari ayat tersebut adalah freedom of choice atau kebebasan untuk memilih. Adam dan Hawa sudah diperingatkan oleh Allah SWT untuk tidak mendekati pohon tersebut, namun nyatanya mereka berdua tetap mendekatinya. Karena bujuk rayu dan hasutan dari syaitan.

Kebebasan untuk memilih juga berlaku bagi keduanya. Apakah mereka memilih bertaubat dari kesalahan yang telah dilakukan atau tidak. Keduanya memilih untuk bertaubat serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Dengan demikian, dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tafsir maqasidi merupakan metode penafsiran teks al-Quran yang tidak hanya menjelaskan hal-hal yang masih bersifat universal. Melainkan menggali lebih dalam sampai pada maksud dan tujuan dari suatu teks. Sehingga keberadaannya dapat turut membantu menjawab permasalahan yang muncul di era milenial ini dengan hasil penafsiran yang out of the box, yaitu penafsirannya tidak ditemui dalam pendekatan tafsir yang lain.

Editor: Alvy Raisatul Murtafi'ah