PEREMPUAN SAKA GURU BANGSA : PENDIDIKAN, KARIR, DAN PERAN

PEREMPUAN SAKA GURU BANGSA : PENDIDIKAN, KARIR, DAN PERAN

Oleh: Halimah Sa’diyah Divisi Tahfizh '19

Perempuan masa kini adalah penikmat dari hasil juang perempuan-perempuan bersejarah dimasa lalu. Perkembangan peradaban perempuan dari masa ke masa senantiasa menciptakan nilai baru dan menambahkan citra perempuan itu sendiri. Perempuan bisa merasakan pendidikan tanpa batas, bisa berkarir sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, dari setiap titik pendidikan yang dilewati dan ditempuh, setiap karir yang telah dikuasai, perempuan tetaplah perempuan. Dia tetap akan menjadi pendidik sejati dan berpengaruh bagi keluarganya bahkan bangsanya sendiri. Hingga pada akhirnya hakikat dari baiknya sebuah bangsa itu karena keberadaannya dengan segala apa yang dimilikinya.

Dilihat dari zaman dulu yang mana kebanyakan orang akan mempunyai pernyataan sama tentang perempuan apalagi orang-orang pribumi, mereka akan mengatakan “panggonane wong wadon iku pawon lan kasur, penggaweane iku masak, macak, lan manak”, dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan “tempatnya perempuan itu di dapur dan kamar, kegiatannya itu memasak, berdandan, dan memberikan keturunan”. Begitulah cara berfikirnya orang-orang pribumi masa lampau, sehingga menjadikan perempuan itu tidak mendapat kebebasan dalam bertindak dan mengekspresikan segala apa yang dicita-citakan. Perempuan dianggap remeh dalam segala hal. Namun, seiring berkembangnya zaman lahirlah para tokoh-tokoh pejuang perempuan di Indonesia seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Kristina Martha Tiahahu, dan masih banyak lagi. Adapun tokoh yang paling berjasa membuka pintu perjuangan perempuan itu adalah beliau Ibu Kartini yang berguru pada KH. Sholeh Darat. Dari jasa-jasa Kartini dalam dunia pendidikan itulah perempuan semakin mendapatkan hak yang selayaknya dari masa ke masa. Perempuan mulai memasuki tempat-tempat pendidikan mulai dari pendidikan model zaman dahulu seperti SR (Sekolah Rakyat) hingga pendidikan model zaman sekarang seperti Sekolah dasar, lanjutan, hingga Perguruan Tinggi dan mendapatkan hak-haknya. Sejak itulah, semakin bergantinya zaman perempuan-perempuan bangsa dapat mengembangkan pemikiran dan wawasannya, menambah pengetahuan dan pengalamannya, serta menelurkan gagasan-gagasan cemerlangnya untuk terus berjuang bagi diri sendiri, kaumnya, keluarga, dan bangsanya.

Setelah para perempuan menempuh pendidikan yang layak, dalam proses pendidikan itu juga alur pemikiran mereka semakin maju dan berkembang. Mereka mulai memikirkan tentang karir dan masa depan. Mayoritas perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi di zaman sekarang, mereka akan merasa tidak percaya diri jika tidak mendapatkan pekerjaan yang tinggi dan sesuai dengan lulusannya. Bahkan, mereka akan merasa pendidikan dan perjuangan mereka dalam berproses itu sia-sia. Mereka akan berlomba-lomba untuk bisa bekerja di perusahaan-perusahaan besar, mengejar title pegawai negeri, dan berkarir setinggi-tingginya. Kemudian bagi perempuan yang sudah menjadi ibu dan mempunyai karir yang tinggi, mereka akan mencarikan baby sitter untuk anaknya agar mereka tetap bisa bekerja secara penuh. Padahal sejatinya, karir bagi perempuan itu bisa dikatakan sebagai batu loncatan untuk mereka menempuh proses yang sebenarnya dalam kehidupan. Mengapa seperti itu? Karena eksistensi perempuan secara hakikiyah adalah sebagai pendidik, baik pendidik untuk diri sendiri maupun orang lain terutama pendidik bagi keluarga dan anak turunnya. Lalu, untuk apa pendidikan dan karir yang telah didapatkan oleh perempuan?.

Esensi seorang perempuan jika dirunut dari adanya Nabi Adam ‘alaihissalam adalah sebagai teman berjuang bagi Nabi Adam. Kemudian, esensi seorang perempuan dalam sebuah keluarga adalah sebagai ibu. Ibu yang mendampingi suaminya berjuang, ibu yang menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. Hal ini karena sudah jelas dan gamblang disebutkan bahwa ibu adalah madrasah awal (مدرسة الأولى ). Berapapun banyaknya anak jika ibu dari anak itu memiliki karakter dan akhlak yang baik maka anaknya juga akan memiliki hal yang sama begitu juga sebaliknya. Seorang anak yang sudah tidak memiliki ibu dia akan cenderung sulit diatur dan berperilaku lebih aktif daripada seorang anak yang masih memiliki ibu. Hal ini bukan berarti seorang perempuan hanya diperuntukkan untuk mengasuh anak saja. Akan tetapi, hal ini merupakan hakikat dasar dari tugas dan peran perempuan. Selain itu, banyak sekali peran perempuan dalam lingkup yang luas dan berimbas pada bangsa.

Peran-peran perempuan dalam lingkup luas tidak bisa diremehkan, karena pada sejatinya laki-laki tidak akan bisa mengatur semua kehidupannya tanpa ada perempuan, baik dalam hal yang sepele maupun hal yang besar. Bahkan tingkat ketelitian perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Disinilah perempuan memiliki peran lebih dalam berbagai bidang disebabkan karena ketelitian dan kejeliannya dalam berbagai hal. Dalam bidang politik bisa dilihat sosok beliau ibu Megawati Soekarno Putri yang pernah menjabat sebagai presiden, dalam bidang kesehatan ada sosok Dr. Eni Gustina, MPH yang pernah menjabat sebagai Direktur Kesehatan Keluarga, dalam bidang social bisa melihat sosok ibu Nurhasannah yang menerima penghargaan social work and education didaerah Banten, dan masih banyak lagi.

Begitulah peran perempuan. Jika diurutkan secara rinci, perempuan mendidik anak-anak mereka agar tumbuh menjadi generasi bangsa yang berkarakter hebat, berbakat tinggi, dan bercita-cita tinggi tanpa meninggalkan akhlak dari ibunya. Kemudian, generasi itulah yang akan menciptakan hal-hal baru dalam bidang pendidikan, agama, politik, social, budaya, dan lain sebagainya yang berpengaruh besar bagi majunya sebuah bangsa. Bagi perempuan-perempuan yang berkiprah tinggi dan luas didunia luar, mereka menjadi motivasi bagi generasi muda bangsa khususnya anak-anak mereka. Bagaimana mereka bersikap, bertindak, dan berkegiatan semuanya akan dilihat dan diamati oleh generasi-generasinya, sehingga mereka yang kiprahnya baik akan menjadi teladan dan secara tidak langsung mereka telah mendoktrin generasi muda bangsa untuk bersikap, berkarakter, dan bertindak seperti mereka.

Pada akhirnya pendidikan, kebebasan, dan karir perempuan adalah peran perempuan itu sendiri untuk menjadikan bangsa itu tetap kokoh tanpa kehancuran dengan syarat perempuan itu mempunyai karakter dan akhlak baik yang tinggi. Perempuan memang seharusnya berproses secara baik, karena secara tidak sadar mereka adalah saka guru (tiang) bangsa. Jika di dalam bangsa itu semua perempuannya baik, maka bangsa itu akan baik. Jika didalam bangsa itu perempuannya buruk dan kotor, maka bangsa itu akan hancur.