Membongkar Al-Qur’an dan Selubung Budaya

Al-Qurra'/Edisi 31

Membongkar Al-Qur’an dan Selubung Budaya

Oleh: Moh. Rofqil Bazikh

(The Winner of Divisi Tafsir Internal Essay Competition)

Membahas Al-Qur’an tidak jarang menjadi hal yang sangat menakutkan, semula hal tersebut disebabkan karena sakralitas Al-Qur’an itu sendiri, selanjutnya karena persyarat untuk memahaminya tidak mudah digapai, tidak serta merta seorang bisa berbicara tentang Al-Qur’an apalagi menafsirkannya. Maka, ketakutan ketika akan membas Al-Qur’an bisa menghantui kepala siapa saja, apalagi orang yang merasa tidak kompeten untuk membahasnya. Tetapi, penulis di sini mencoba untuk membahas, bukan dalam artian hendak mengklaim penulis adalah orang yang kompeten dalam bidang Al-Qur’an, penulis hanya ingin menguraikan terkait Al-Qur’an dan relasinya dengan selubung budaya di baliknya, tentunya, hal tersebut hanya sependek pengetahuan yang penulis punya.

Mafhum, bahwa Al-Qur’an turun dengan tujuan untuk merespon suatu realitas social yang ada di dunia ini, dalam hal ini penulis hendak menyebut realitas “dunia Arab”. Ketika ia diturunkan kepada nabi dengan perantara malaikat, sebagain besar ayatnya memang hendak merespon realitas itu. Secara lebih halus, Al-Qur’an hendak jadi juru selamat atau juru tunjuk terdapat suatu persoalan, yang mana persoalan tersebut sedang dihadapi oleh masyarakat Arab atau sahabat nabi secara spesifik. Maka tidak bisa dipungkiri jika relasi antara Al-Qur’an dan realitas dunia Arab bergandengan erat, bahkan realitas tersebut turut serta menyusupi banyak bagian dalam Al-Qur’an. Akibatnya, ketika Al-Qur’an hendak dikonkretkan ke belahan dunia yang lain maka akan mengalami semacam gap.

Untuk menguatkan pandangan penulis di atas, mari kita menengok ke dalam dunia ilmu Al-Qur’an di masa klasik. Sejak masa klasik, ilmu Al-Qur’an sudah mengenal yang namanya sebab turunnya ayat (asbab al-nuzul). Jika kita mau menguraikan secara jujur dan terperinci, asbab al-nuzul sejatinya juga suatu medium untuk memahmi selubung realitas atau bahkan budaya di balik ayat. Imam Jalaluddin al-Suyuthi menguraikan dalam al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, bahwa salah satu guna asbab al-nuzul untuk memahami hikmah dibalik pensyariatan. Penulis berani menyimpulkan bahwa kita bisa mengambil sesuatu yang tersembunyi di balik ayat dengan asabab al-nuzul, karena dengan melihat asbab al-nuzul kita akan memahami bagaimana sejatinya hal-hal yang menyebabkan dan menyelubungi suatu ayat.

Jika ditarik dalam konsep kekinian, persoalannya kemudian apakah teks dalam Al-Qur’an ini bisa berlaku secara universal atau particular?. Jika ia kemudian berlaku universal, maka sampai saat ini bisa langsung diimplementasikan. Tetapi, jika sebaliknya atau particular hanya untuk realitas Arab saat itu, maka tidak bisa serta merta ditarik ke masa kini. Sebelum masuk pada kategorisasi itu, penting kiranya memang menggunakan teropong histori-sosiologis untuk mengungkapkan itu semua. Teropong ini yang juga akan menunjang bagaimana semestinya asbab al-nuzul diaplikasikan. Membongkar selubung budaya di balik teks Al-Qur’an membutuhkan sikap yang objektif dan kejujuran ilmiah, oleh karenanya sebisa mungkin terlepas dari semacam kepentingan pribadi atau personal.

Salah satu sampel yang hendak penulis ambil adalah ayat tentang jihad. Ada sekian banyak ayat tentang seruan untuk berjihad (baca; perang) di jalan Tuhan. Jika kita tarik ke konteks masa lalu, hal tersebut memang bisa dimaklumi, masa itu perang adalah sesuatu yang seolah tak terhindarkan. Sehingga, selubung realitas perang tersebut memang tidak bisa dilepaskan. Tetapi, jauh melesat ke hari ini, ayat-ayat tersebut bisa direnungkan ulang. Hari ini, pertumpahan darah adalah hal yang dinilai mencederai hak asasi manusia serta hak untuk hidup. Maka, ketika ayat penumpasan digunakan dalam konteks hari ini, penulis pikir ada dua realitas yang berbeda yang saling menegasi, yakni antara realitas masalalu di Arab, dan realitas hari ini di sini.

Jika Al-Qur’an memang ditujukan untuk selalu sesuai dengan zaman, maka harus dilakukan pembacaan lain, suatu pembacaan dimana melibatkan realitas dunia Arab saat itu dan dunia yang kita tinggali sekarang, hanya dengan demikian Al-Qur’an bisa salih li kulli zaman wa makan. Jika tidak bisa menangkap selubung budaya di balik teks, penulis kira akan terjadi pengaplikasian yang serampangan, yakni hanya mencomot ayat dan kemudian hendak diimplementasikan, padahal ada semacam misteri di balik ayat itu dan dibutuhkanlah analisis melalui asbab al-nuzul atau bahkan sosio-historis dimana teks itu diwahyukan.

Diakui atau tidak, antara realitas saat itu dengan hari ini memiliki gap yang begitu jauh. Implikasinya adalah apa-apa yang diwahyukan pada masa lampau tidak langsung bisa diklaim persis serta presisi. Harus dikaji kembali kan kemudian dikorek sedikit demi sedikit selubung budaya yang menyelimutinya. Dan penulis akui bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan sembarang orang, butuh kompetensi dan ketelatenan yang memadai.

Editor: Alvy Ra'isatul Murtafi'ah

Referensi:

Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulumul Qur’an, 2021.

Jalaluddin al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an.