Problematika Politik Bagian dari Warisan Sejarah Yang Terulang
Problematika Politik Bagian dari Warisan Sejarah Yang Terulang
Oleh: Muhammad Farhan
Narasi perpolitikan dewasa ini selalu mewarnai kehidupan. Bahkan sudah sangat langka sekali apabila orang merasa buta politik. Dunia politik semakin terbuka seperti kontestasi publik karena siapapun bisa masuk dan mengambil bagian didalamnya. Tindakan liberalisasi demikian membuat politik menjadi santapan keseharian. Hukum rimba menjadi landasan ruang dan waktu perpolitikan. Artinya kekuatan menjadi acuan utama untuk menuju kekuasaan. Kekuatan dalam perpolitikan dewasa ini sering dikonotasikan dengan kekuatan materi finansial.
Pembahasan diatas kiranya menjadi refleksi awal bagaimana kita melihat dunia perpolitikan semakin maju mengarah kepada konflik berkepanjangan tentang dimensi-dimensi tafsirnya. Artinya, sejauh ini banyak manusia yang berusaha memaknai dunia perpolitikan sebagai wadah menunjukkan idealis masing-masing. Wujud konkritnya bisa kita rasakan saat musim pemilu datang entah itu eksekutif maupun legislatif. Persaingan tidak hanya ditunjukkan oleh pasangan calon akan tetapi semua ikut tergerak menunjukkan jati dirinya. Bahkan politik mempengaruhi gaya hidup dengan adanya pembatasan-pembatasan interaksi sosial. Kubu pendukung A enggan saling sapa dengan pendukung B, bahkan dari persaingan ini melahirkan banyaknya konflik perpecahan yang baru.
Dinamika perpolitikan selalu semerbak dengan pandangan tidak sehat. Bagaimana tidak demikian, para politisi saja menujukkan banyaknya kasus dan problematika kompleks dari waktu ke waktu mengenai korupsi, kolusi, serta nepotisme. Permasalahan yang tidak kunjung menemui titik pencerahan ini menjadikan politik sebagai dunia yang profan dan menghasilkan stigma negatif. Bahkan politik tidak menjadikan manusia berpikir dewasa tentang kemajuan berdemokrasi. Hal demikian memang tidak bisa kita nafikan begitu saja, bagaimanapun juga fakta telah berbicara betapa keruhnya permasalahan perpolitikan termasuk dampaknya adalah negara kita sendiri.
Tidak hanya mengenai perang melawan korupsi, negara kita juga dihadapkan pada persaingan ideologi. Label Ideologi masuk dalam motif-motif perpolitikan dibawa oleh mereka-mereka yang siap bergempur merebut kekuasaan. Hal ini memicu adanya ruang terbuka bagi siapapun yang ingin mengkampanyekan paham ataupun doktrin yang dikupas mendalam dengan kekuatan ilmiah nan teoritis. Wujud konkrit dari permasalahan demikian dapat kita lihat dari media dengan segenap pemberitaannya yang membuat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit menentukan ideologi yang benar. Peran setiap tokoh menjadi hal yang sakral dalam menentukan kekuatan dan ketahanan dari kontestasi ini. Tentu saja hal ini dibarengi dengan usaha-usaha represif baik pembelaan maupun penjegalan pada celah lawan. Persaingan demikian menjadikan ideologi politik sebagai bahan komoditi.
Penggambaran perpolitikan yang kompleks diatas sebenarnya merupakan pengulangan sejarah yang diabadikan dalam karya-karya besar umat manusia. Peradaban kuno seperti Romawi, Persia, dan bahkan Islam sendiri menunjukkan banyaknya polemik perpolitikan untuk bertahan dan menguasai peradaban. Korupsi, nepotisme selalu menjadi tajuk pembahasan dari masa ke masa. Perebutan kekuasaan di masa Romawi, Persia, Islam dan peradaban-peradaban lainnya tidak terlepas dari hal demikian dan tidak sedikit pula yang melahirkan intrik berdarah. Gaya glamour, korupsi, kemewahan selalu mewarnai kekuasaan. Sejarah yang demikian kiranya sudah cukup banyak tertulis dan tersaji bagi kita untuk memahami bahwa pengulangan-pengulangan sejarah itu pasti terjadi dengan warna yang berbeda.
Islam memandang politik sangat terbuka. Islam hadir dengan melahirkan sosok revolusioner Rasul Muhammad Saw menjadi pembuktian bahwa islam siap berada dalam persaingan peradaban. Sosok pemimpin agama dan kenegaraan yang dicontohkan Rasulullah Saw menjadi cerminan bahwa islam mengatur segala hal, tidak hanya berkaitan dengan ajaran agama. Sepeninggal Rasulullah Saw dinamika peradaban islam dihantam oleh banyak sekali tantangan. Kepemimpinan Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan sampai pada masa Ali Bin Abi Talib menggambarkan bahwa Islam terlepas dari kehadiran sosok Nabi Saw. dan membutuhkan keberanian-keberanian ijtihad dan wajah perpolitikan yang baru. Estafet kepemimpinan tidak lagi dilanjutkan pada manusia pilihan sebagai utusan yang baru, tetapi amanah ini dijatuhkan kepada umat manusia biasa. Oleh karenanya para sahabat yang terpilih sangat berhati-hati dalam memegang amanah kepemimpinan dan mengambil ijtihad-ijtihad yang baru, hal itu dikarenakan mereka sadar bahwa sosok sempurna hanyalah utusan Allah yakni Muhmmad Saw. Gejolak perpolitikan mulai tumbuh dengan adanya pemberontakan, kelompok propagandis, serta kasus-kasus lainnya. Ditambah dengan adanya kisah akhir masa jabatan khalifah dibumbui peristiwa berdarah seperti Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, serta Ali Bin Abi Talib yang terhunus oleh kelompok yang membenci kepemimpinannya. Politik telah menggerus nilai-nilai luhur, persaingan, dan kebencian karena adanya unsur mendominasi dan didominasi menjadi penyebab akan hal demikian.
Pasca masa sahabat Khulafa Ar Rasyidin, Islam benar-benar berada dalam tatanan global. Islam lahir dengan peradaban yang tumbuh dari embrionya siap menghadapi gempuran dan dominasi peradaban lain. Dari sinilah Islam benar-benar berusaha berkembang jauh keluar dari yang sebelumnya sangat bercorak teologis. Daulah Umayyah lahir dengan catatan sejarah kelam pertumpahan darah yang berkepanjangan antara Muawiyah dan Ali Bin Abi Talib sampai anak keturunannya. Peristiwa Tahkim diujung tanduk pertempuran ini melahirkan sekte dan partai-partai baru yang ideologinya masih berumur hingga saat ini. Tidak hanya itu, sistem pemerintahan yang mengadopsi peradaban-peradaban sebelumnya melahirkan konflik yang terus berkesinambungan. Mulai dari menurunnya rasa simpati umat Islam keada para pemimpin, hilangnya nilai musyawarah dan kebebasan berpendapat, korupsi dan kemewahan membudaya, hingga nepotisme terhadap sistem yang kaku. Dengan sistem yang demikian ini menjadikan banyaknya api kecil pemberontakan serta ketidakpuasan terhadap keadilan. Terbukti sejarah ini berlanjut dan mengalami fase yang sama. Daulah Abbasiyah lahir dari penumpasan berdarah oleh Abu Abbas As Saffah, kemudian propaganda Daulah Fatimiyah sebagai respon terhadap pengucilan dan perbedaan pengakuan imam mereka, kelompok propaganda selanjutnya muncul dan singgah hingga melahirkan beberapa daulah kecil, dan pada puncaknya islam berada pada kepemimpinan Usmaniyah menghadapi dunia yang semakin terbuka dengan segenap paham ideologi politik yang beragam.
Kiranya demikian sejarah berbicara. Dunia politik dan kekuasaan sangatlah luas dan penuh persoalan akan penyelesaiannya. Namun, tidak sedikit pula sosok pemimpin yang tercatat sebagai politisi ulung menjadi sorotan karena keberhasilannya. Setiap manusia memang memiliki sisi kelebihan dan kekurangan, menjadi tokoh sentral dalam dunia politik tidaklah mudah dan siapapun dituntut untuk bisa membawa keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian akan umatnya. Begitu pula dengan Negara kita, Indonesia dengan ideologi Pancasila yang sangat religius diharapkan mampu melahirkan dinamika perpolitikan yang dewasa dan harmonis. Kita pernah merasakan beberapa kali regulasi pemimpin, petinggi dewan, dan pejabat kenegaraan lainnya serta merasakan beberapa gaya kepemimpinannya yang beragam. Kita sebagai warga negara tidak mungin menutup mata terhadap realitas perpolitikan yang ada. Sedikit banyak kita pastilah tahu tentang tindakan, kebijakan, serta pengetahuan tentang pemerintahan dan segenap sistem yang mengaturnya. Kita tidak terlahir menjadi politikus ulung secara merata, tetapi kita dilahirkan menjadi manusia yang sama untuk menginginkan kesejahteraan dan keadilan.
Penjelasan diatas layaknya cukup menggambarkan bahwa tidak ada keadaan perpolitikan yang mulus dan mutlak memegang kebenaran. Regulasi, persaingan, kemajuan, kemunduran dan lainnya, merupakan dinamika yang akan terus bermunculan. Membaca sejarah bukan berarti menikmati saja. Tetapi perlunya dari sejarah mampu membuat manusia terus berbenah. Pengulangan itu akan terus ada tetapi sedikit banyak harus mengalami perubahan yang baik. Politik yang dinilai keruh dengan segala akar permasalahannya diharapkan akan terus beranjak menuju kedewasaan. Harapan-harapan positif itu perlu diutarakan dan semoga perpolitikan negeri ini menjadi ranah pertunjukan kualitas para politisi untuk kemajuan bangsa dan bukan sebaliknya hanya menjadi ladang mencari kekuasaan semata.