KH. Bisri Musthofa: Sang Pecinta Ilmu dari Rembang
Al-Qurra'/Edisi 23
KH. Bisri Musthofa: Sang Pecinta Ilmu dari Rembang
Oleh: Aqilatun Ni'mah (Div. Tafsir '19)
Bisri Musthofa pada waktu kecil adalah seorang pemalas. Malas untuk belajar dan mengaji di pesantren, bahkan dia lebih suka bekerja mencari uang daripada mengaji. Bagaimana orang yang pemalas mampu menjadi tokoh yang sangat disegani dan menjadi panutan? Hal itu karena Bisri Musthofa yang pemalas tidak berlangsung lama, akhirnya ia bersedia mengaji dan menekuni ilmu-ilmu agama. Hal-hal menarik dan mengispiratif dari K.H Bisri Musthofa akan dibahas dalam tulisan ini.
KH. Bisri Musthofa memiliki nama asli Mashadi Putra. Ia dilahirkan di Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah pada tahun 1915 M. Bisri Musthofa memiliki tiga saudara (Salamah, Misbah, dan Ma’shum). Ayahnya bernama H. Zainal Mustofa dan ibunya bernama Chotijah (Huda, 2005). Bisri Musthofa lahir dalam lingkungan pesantren karena ayahnya adalah seorang kyai.
Pendidikan Bisri Musthofa di mulai di Rembang, tepatnya di sekolah jawa “Ongko Loro” pada usia tujuh tahun. Namun, pendidikannya di sekolah ini tidak selesai karena diajak orang tuanya menunaikan ibadah haji di makkah. keluarga Mashadi menunaikan ibadah haji pada tahun 1923 dengan menggunakan kapal haji milik Chasan Imazi. H. Zainal Mustofa meninggal saat perjalanan haji dalam usia 63 tahun. Setelah pulang haji nama Mashadi diganti dengan Bisri yang selanjutnya lebih dikenal dengan Bisri Mustofa (Ghofur, 2008). Setelah itu, Bisri melanjutkan sekolah di HIS (Holland Indische School).
Pada waktu itu di Rembang terdapat tiga sekolah yaitu Eropese School, HIS, dan sekolah jawa (sekolah ”ongko loro”). Eropese School merupakan sekolah di mana muridnya terdiri dari anak bupati, asisten presiden, dan lain-lain. Kemudian HIS diperuntukkan bagi anak pegawai negeri. Sedangkan sekolah jawa terdiri dari anak-anak kampung, anak pedagang, dan anak tukang. Tak lama kemudian Bisri pindah kembali ke sekolah “ongko loro” karena di paksa keluar oleh Kiai Kholil dengan alasan sekolah tersebut milik Belanda. Tahun 1926 Bisri menyelesaikan sekolahnya dan mendapatkan sertifikat pendidikan dalam masa 4 tahun (Maslukhin, 2015).
Bisri melanjutkan pendidikannya ke pesantren Kajen, Rembang. Tahun 1930 Bisri belajar di Pesantren Kasingan (tetangga Desa Pesawahan) di bawah pimpinan Kiai Kholil. Dia juga mengaji di pesantren Tebu Ireng dibawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Untuk memperdalam ilmunya, akhirnya Bisri mengaji di Makkah pada tahun 1956. Di Makkah ia belajar ilmu tafsir, hadis, dan fikih (Iwanebel, 2014).
Usia 20 tahun bisri dinikahkan oleh Kiai Kholil dengan gadis berusia 10 tahun bernama Ma’rufah yang merupakan putrinya sendiri. Setahun setelah menikah, bisri pergi ke makkah lagi untuk menunaikan ibadah haji dengan anggota kelurga dari Rembang. Namun, Bisri tidak pulang ke tanah air dan memutuskan belajar di Makkah untuk memperdalam ilmunya. Di antara guru di Makkah adalah sebagai berikut:
- KH. Bakir (belajar untuk mendalami kitab Hubb al- Ushul karya Syaikh al-Islam Abi Yahya Zarkasyi, kitab Umdat al-Abrar karya Muhammad bin Ayyub dan kitab tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari)
- Syaikh Umar Khamdan (belajar kitab hadis yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
- Syaikh ‘Ali Maliki (mendalami kitab Al-Asybah wa Al-Nadhoir karya Imam Jalaludin Al-Suyuti dan kitab al-Hajjaj al-Qusyairi karya an-Nisabury)
- Sayyid Amin (belajar kitab Alfiyah Ibnu Aqil karya Ibn Malik)
- Syaikh Hasan Masysyath (mendalami kitab Manhaj Dzawi al-Nadzar karya Syaikh Mahfudz Al-Tirmasi)
- Sayyid ‘Alwi Al-Maliki (belajar Tafsir Jalalin karya Imam Jalalain Al-Suyuti dan Imam Jalauddin Al-Mahalli)
Dua tahun lebih Bisri menuntut ilmu di Mekah. Bisri pulang ke Kasingan, tepatnya pada tahun 1938 atas permintaan Kiai Kholil. Setahun kemudian, mertuanya (Kiai Cholil) meninggal dunia dan sejak itulah Bisri menggantikan posisi kiai kholil sebagi guru (pengajar) dan sebagai pemimpin pesantren. Di samping kegiatan mengajar di pesantren, beliau juga aktif mengisi ceramah (pengajian) keagamaan. KH. Bisri Musthofa juga memiliki banyak murid, di antara murid-muridnya adalah KH. Saefullah (pengasuh sebuah pesantren di Cilacap, Jawa Tengah), KH. Muhammad Anshari (Surabaya), KH. Wildan Abdul Hamid (pengasuh sebuah pesantren di Kendal), KH. Basrul Khafi, KH. Jauhar, Drs. Umar Faruq SH, Drs. Ali Anwar (Dosen IAIN Jakarta), Drs. Fathul Qorib (Dosen IAIN Medan), H. Rayani (Pengasuh Pesantren al-Falah Bogor), dan lain-lain (Huda, 2005).
KH. Bisri Musthofa hidup dalam tiga zaman, yaitu zaman penjajahan, zaman pemerintahan Soekarno dan masa Orde Baru. Pada zaman penjajahan, ia duduk sebagai ketua Nahdlatul Ulama dan ketua Hizbullah Cabang Rembang. Pada zaman pemerintahan Soekarno, KH. Bisri duduk sebagai anggota konstituante, anggota MPRS dan Pembantu Menteri Penghubung Ulama. Sedangkan pada masa Orde Baru, KH. Bisri pernah menjadi anggota DPRD I Jawa Tengah hasil Pemilu 1971 dari Fraksi NU dan anggota MPR dari Utusan Daerah Golongan Ulama (Maslukhin, 2015).
Karya KH. Bisri musthofa sangat banyak, kurang lebih 54 buah judul yang meliputi: tafsir, hadis, aqidah, fikih, sejarah nabi, balâghah, nahwu, sarf, kisah-kisah, syiiran, doa, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah dan lain-lain. Karyanya yang paling monumental adalah Tafsir al-Ibriz, di samping kitab Sulam al-Afham. Karya-karya KH. Bisri Musthofa yang lain adalah sebagai berikut: Tafsir Surat Yasin, al-Iksier, al-Azwad al-Mustafawiyah, al-Manzamat al-Baiquni, Rawihat al-Aqwam, Durar al-Bayan, Sullam al-Afham li Marifat al-Adillat al-Ahkam fi Bulgh al-Maram, Qawaid Bahiyah, Tuntunan Shalat dan Manasik Haji, Islam dan Shalat. Akhlak/Tasawuf, Wasaya al-Abalil Abna, Syiir Ngudi Susilo, Mitra Sejati, Qasidah al-Ta’liqat al-Mufidah, Tarjamah Sullam al-Munawwaraq, al-Nibrasy, Tarikh al-Anbiya, Tarikh al-Awliy (Huda, 2005).
Corak pemikiran Bisri Mustofa dalam hal perbuatan manusia bercorak Qadariyah. Beliau tidak hanya menyerahkan sepenuhnya perbuatan itu sesuai dengan kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan, namun ada unsur ikhtiar atau usaha manusia. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemikiran Bisri Mustofa sangat konstektual yang disesuaikan dengan kondisi yang mempengaruhinya, meskipun basis keilmuwanya berasal dari pesantren yang sangat tradisional. (Huda, 2005). Bisri Mustofa dikenal sebagai pemikir moderat. Hal ini merupakan sikap yang diambil dengan pendekatan ushul fiqh yang mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan umat atas kondisi zaman dan kondisi masyarakat. Inilah yang menunjukkan bahwa Bisri Mustofa adalah seorang ulama Sunnī dengan konsep Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah. KH. Bisri Musthofa wafat pada Hari Rabu 17 Februari 1977 menjelang asar di rumah sakit dr. Karyadi Semarang karena serangan jantung, tekanan darah tinggi dan gangguan pada paru-paru (Fahmi, 2019).
Editor: Maryani