Napak Tilas Kemerdekaan: Umat Islam Garda Depan Tumpas Kolonialisme

Napak Tilas Kemerdekaan: Umat Islam Garda Depan Tumpas Kolonialisme

Oleh: Ni’ma Royyin Husnaya

Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk umat Islam, melalui perjuangan yang tidak mudah. Banyak tumpah darah dialami. Pengorbanan harta, jiwa, raga, dan fikiran demi merebut kembali kemerdekaan Indonesia yang berabad-abad dikuasai oleh kolonial. Berbagai penyiksaan, penindasan, dan kekerasan tidak manusiawi yang didapatkan dari penjajah.

Sejarah mencatat, kaum penjajah yang mula-mula datang ke Indonesia adalah Portugis pada tahun 1511 M yang membawa misi Gold (tambang emas), Glory (kejayaan dan kekuasaan), dan Gospel (penyebaran agama Nasrani). Disusul Belanda pada tahun 1619, kemudian pendudukan Jepang di Indonesia yang diawali di kota Tarakan pada tahun 1942. Berbagai tindakan tidak manusiawi dilakukan oleh para penjajah. Perbuatan yang dilakukan tidak bisa diterima oleh bangsa Indonesia.

Di Maluku, Portugis menghasut dan mengadu domba kerajaan Islam, Ternate dan Tidore. Kristenisasi secara besar-besaran dilakukan. Di Aceh pada tahun 1942 tentara Jepang melakukan penghinaan terhadap umat Islam Aceh dengan membakar masjid dan membunuh jamaah yang sedang sholat shubuh. Para kyai dan santri dipaksakan melakukan seikirei, yaitu menghormat kepada kaisar Jepang dengan cara membungkukkan setengah badan ke arah matahari. Hal ini tentu sebagai pelanggaran akidah Islam.

Maka wajarlah jika seluruh umat Islam Indonesia bangkit dibawah pimpinan para ulama’ dan santri di berbagai pelosok tanah air, dengan persenjataan yang sederhana seperti bambu runcing, tombak, dan golok. Namun mereka bertempur habis-habisan melawan kolonial dengan niat yang sama, yaitu berjihad di jalan Allah. Prinsip mereka adalah hidup mulia atau mati syahid.

Berbagai perlawanan dilakukan oleh umat Islam. Di Jawa, Sultan Ageng Tirtayasa, Kyai Tapa dan Bagus Buang dari Kesultanan Banten, Sultan Agung dari Mataram, dan Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta memimpin perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830. Di Sumatra ada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusi memimpin perang Padri pada tahun 1833 – 1837. Di Kalimantan tercatat Pangeran Antasari memimpin perang Banjar yang dilanjutkan oleh para mujahid lainnya seperti Pangeran Hidayat, Sultan Muhammad Seman, Temanggung Surapati, dan lain sebagainya. Dalam perang Banjar ini sekitar 3000 serdadu Belanda tewas. Banyak umat Islam gugur dalam perang, dan masih banyak lagi perlawanan yang dilakukan umat Islam dalam melawan kolonialisme. Perlawanan dan pemberontakan dilakukan selama berabad-abad, mempertaruhkan nyawa, menghasilkan tumpah darah, mengorbankan diri sendiri demi merebut kemerdekaan Indonesia.

Tidak sia-sia, usaha perjuangan seluruh lapisan masyarakat dan umat Islam berhasil dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Proses perjuangan yang panjang dalam merebut kembali kemerdekaan yang telah dirampas oleh penjajah telah mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga Bangsa Indonesia.

Tidak berhenti sampai disitu saja, setelah kemerdekaan Indonesia diplokamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, muncul persoalan baru yaitu datangnya tentara sekutu yang diboncengi NICA (Nederland Indies Civil Administration) pada tanggal 15 September 1945. Tujuan mereka adalah untuk menguasai Indonesia kembali. Kedatangan mereka tentu saja mendapat reaksi yang tidak baik dari bangsa Indonesia. Berbagai perlawanan dan pemberontakan dilakukan kembali.

Para kyai dan santri di pelosok Nusantara berjuang mengadakan perlawanan. Semangat para kyai tak pernah padam meskipun kolonial semakin berkuasa. Seperti yang dilakukan K.H. Hasyim Asy’ari membentuk Laskar Hizbullah yang bertugas untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal 21-22 Oktober 1945 para kyai berkumpul di Surabaya. Pada saat itu dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci atau dikenal dengan istilah Resolusi Jihad. Deklarasi tersebut mampu menggerakan Pemerintah Republik Indonesia dan seluruh bangsa Indonesia, khususnya yang beragama Islam, untuk bersama-sama melawan tentara sekutu yang diboncengi oleh NICA.

Segera ribuan kyai dan santri bergerak menuju Surabaya. Dua minggu kemudian meletuslah pertempuran yang sangat dahsyat yang dipimpin oleh Bung Tomo pada tanggal 10 November 1945. Karena dahsyatnya pertempuran pada saat itu, maka tanggal tersebut dikenang sebagai hari pahlawan untuk mengenang peristiwa besar tersebut. Sedangkan pada tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Berbagai perlawanan lainnya juga dilakukan. Diantaranya di Bandung yang dikenal dengan Bandung Lautan Api. Yaitu pertempuran di Bandung Utara, kemudian di Bandung Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Toha dan Ramadhan.

Perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan hingga mengorbankan harta, benda, nyawa, dan melalui berbagai tumpah darah bisa kita rasakan hingga saat ini. Kita dapat hidup dan belajar dengan tenang saat ini adalah karena perjuangan hebat seluruh lapisan masyarakat dan lapisan umat Islam pada saat itu. Maka sebagai warga negara dan umat Islam, tugas kita adalah mempertahankan kemerdekaan yang susah payah direbut kembali oleh para pahlawan yang telah gugur dengan cara menumbuhkan sifat nasionalisme yang besar dalam diri kita. Jangan sampai kemerdekan yang 75 tahun lalu direbut jatuh kembali di tangan penjajah, hanya karena hilangnya jiwa nasionalisme dalam diri Bangsa Indonesia, dan runtuhnya kesatuan berbangsa dan bernegara.

Referensi:

https://blog.ruangguru.com/kedatangan-nica-di-indonesia diaskes 25 April 2020

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4545818/kisah-ulama-pendiri-laskar-hizbullah-pasukan-yang-berperang-lawan-sekutu diaskes 25 April 2020

https://www.nu.or.id/post/read/50382/ulama-santri-garda-depan-perjuangan-kemerdekaan diaskes 25 April 2020

Rohman, Abdul dkk, Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Aliyah Program Keagamaan

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler