Menilik Kitab Tafsir Sufi al-Tustari
Al-Qurra'/Edisi ke-17
Menilik Kitab Tafsir Sufi al-Tustari
Ar-Rasyid Fajar Nasrullah (Div. Tafsir ’18)
Pada mulanya kitab tafsir al-Tustari —sebagaimana tafsir sufi pada umumnya— bukanlah hasil tulisan tangan Sahal al-Tustari sendiri. Akan tetapi merupakan hasil tulisan para murid-muridnya ketika mereka sedang mengikuiti halaqah-halaqah al-Tustari. Al-Tustari menyampaikan penafsirannya secara oral tentang makna dari suatu ayat kemudian murid-muridnya menulisnya. Hasil tulisan-tulisan inipun pada kemudian hari dikumpulkan dan disusun oleh para muridnya dengan sedikit penambahan.
Sebutan atau penamaan tafsir “al-Tustari” sebenarnya dinisbahkan kepada sang mufassir itu sendiri yaitu imam Sahal bin Abdullah al-Tustari. Dimana julukan al-Tustari merupakan nama kuniyahnya karena ia lahir di tustar (dalam bahasa Persia disebut Sushtar). Namun sebenarnya nama asli kitab ini adalah tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Hanya saja kitab ini lebih sering disebut dengan kitab tafsir al-Tustari.
Sementara ini, singkatnya dapat dikatakan bahwa kitab Tafsir al-Tustari ini merupakan kitab tafsir sufi pertama atau tertua yang dapat kita jumpai hingga saat ini. Hal ini diperkuat oleh bukti-bukti otentik yang mengindikasikan bahwa kitab ini telah muncul sejak jauh sebelum abad ke-4 hijriyah silam. Adapun beberapa argumen tersebut diantaranya, pertama dimulai dari yang paling dekat jarak waktunya dengan saat ini yaitu dalam edisi cetak, tafsir ini pertama kali dicetak di Kairo pada tahun 1326 H/ 1908 M dengan tebal 204 halaman.
Kedua, ditemukannya manuskrip tertua tentang tafsir ini yaitu merujuk pada kisaran abad 9 H/ 15 M atau 10 H/ 16 M. Namun hal ini belumlah cukup, meskipun manuskrip tertua dari kitab ini di temukan di abad pertengahan, akan tetapi ada bukti lain yaitu ditemukannya pengantar dalam manuskrip-manuskrip lain yang berisikan komentar dari Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami dalam kitab haqaiq al-tafsir yang ditujukan kepada al-Tustari yang merujuk pada abad ke 6H/12M. Kemudian dari cara penulisannya juga diduga kuat bahwa format tulisan yang mirip dengan tafsir al-Tustari semacam itu setidaknya berada di akhir abad ke-4 hijriyah.
Benar saja jika kitab tafsir al-Tustari ini sulit dilacak awal keberadaannya. hal ini dikarenakan sebagaimana telah dijelaskan di awal, bahwa komposisi dan susunan tafsir al-Tustari bukanlah murni hasil tulisan tangan mufassir-nya sendiri apalagi pendapatnya. Tafsir ini merupakan hasil kumpulan tulisan para muridnya yang mengikuti ceramah maupun halaqah-halaqahnya. Maka dari itu pasti akan terjadi penambahan dari murid al-Tustari dalam penulisan tafsir itu meskipun sedikit. Cara seperti ini memang lazim dalam dinamika tafsir sufi.
Seperti telah disinggung di awal bahwa tafsir al-Tustari merupakan tafsir yang bercorak tasawuf atau sufistik. Kemudian, corak tafsir yang semacam ini dalam penafsiran al-Qur’an biasa menggunakan pendekatan al-tafsir al-sufi, atau biasa disebut dengan tafsir sufi.[1] Tafsir sufi sendiri masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu Tafsir Sufi Nadari dan Tafsir Sufi Isy’ari. Tafsir al tustari sendiri termasuk ke dalam golongan tafsir sufi isy’ari yaitu penakwilan ayat-ayat al-Qur’an yang berbeda dari makna zhahirnya yang kemudian disesuaikan dengan intuisi tokoh sufisme itu yang telah mendapatkan “petunjuk khusus” dalam memahami ayat tersebut.[2] Pada tafsir ini tidak jarang kita dapat menemukan hikayat dan cerita-cerita kehidupan para ulama-saleh. Karena coraknya yang sufistik, maka tafsir ini lebih memfokuskan bahasannya kepada penyucian qalbu dan jiwa. Pada master piece-nya kali ini al-Tustari tidak menafsirkan semua ayat al-Qur’an secara lengkap. Al-Tustari hanya menafsirkan kurang lebih 1000 ayat dalam al-Qur’an. Kemudian, ia hanya mengambil beberapa ayat dari setiap surah dalam al-Qur’an dari al-Fatihah sampai an-Nas yang dianggap ia perlukan untuk pembahasannya.
Adapun terkait dengan sejarah struktur dan komposisi, seorang sarjana barat atau biasa disebut dengan orientalis, dan orientalis yang dimaksud adalah Bowering. Ia mengidentifikasi setidaknya ada tiga lapisan struktural dalam karya al-Tustari ini. Lapisan pertama dalam komposisi tafsirnya ini adalah komentar Sahal bin Abdullah al-Tustari terhadap beberapa ayat al-Qur’an. Kemudian yang kedua, aporisme al-Tustari pada tema yang berbau mistik khususnya pada tema yang diperbincangkan pada suatu ayat misalkan seperti cerita ilustrasi para nabi. Kemudian yang terakhir adalah representasi serta tambahan dari murid-murid al-Tustari terhadap komentar al-Tustari yang mencakup teks yang mendukung suatu komentar yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis.
Kitab tafsir al-Tustari merupakan kitab tafsir yang berisi komentar dan dinisbatkan kepada Sahal al-Tustari terhadap beberapa ayat-ayat tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Bowering, al-Tustari menyampaikan tafsirnya ini ketika sesi pembacaan al-Qur’an telah selesai, baru kemudian al-Tustari memberikan komentar terhadap ayat tersebut. Secara struktural kitab tafsir al-Tustari ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu muqaddimah dan isi penafsiran. Bagian muqaddimah sendiri masih terbagi menjadi dua sub bab. Yaitu sub bab pertama berisi pengantar, dan sub bab kedua berisi mengenai karakteristik pencarian pemahaman terhadap al-Qur’an. Adapun pada bagian kedua atau bagian utama dari kitab ini, al-Tustari memulai sub bab pembahasannya dengan menafsirkan tentang basmalah. Kemudian dilanjutkan dengan menafsirkan surah al-Fatihah hingga surah al-Nas. Namun, (seperti telah disinggung di awal) dalam pembahasannya ini beliau tidak menafsirkan semua ayat. Beliau memilih beberapa ayat saja untuk ditafsirkan dari setiap surah. Tidak ada batasan tertentu dalam penentuan jumlah ayat yang akan ditafsirkan dalam setiap surah.