RAMADHAN
RAMADHAN
Oleh : Deni Irawan
Marhaban Ya Ramadhan. Ramadhan kembali tiba, tak terasa kini kita telah masuk di bulan suci Ramdhan 1441 H/2020 M, yang ditunggu-tunggu kehadiranya oleh umat Islam. Umat Islam beramai-ramai menyambut bulan suci Ramadhan sebagai bulan penuh berkah (Syahrun Mubarakun) dan keagungan (Syahrun azhim). Karena agungnya bulan suci Ramadhan, sehingga gerbang rahmat dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka dikunci rapat-rapat, dan setan pun semuanya dibelenggu.
Cinta Ramadhan tentu bukan fiktif. Ramadhan adalah tamu suci yang mendatangi siapa pun dengan berbagai keistimewaan. Keistimewaan Ramadhan bukan semata karena diturunkannya kitab suci Al-Qur’an, tetapi terletak pada sambutan umat Islam pada bulan ini untuk mengistimewakan kualitas dirinya sendiri.
Ada apa sebetulnya dengan bulan Ramadhan sehingga harus “diistimewakan” dan “disucikan”? Apa yang harus dilakukan saat bulan Ramadhan agar mendapat manfaat serta hikmah yang bisa kita raih dalam kehidupan kita sehari-hari?
Hilangnya cakrawala mengenai makna dan sejarah Ramadhan, tentunya membuat kita rugi betapa besar nilai-nilai dan keistimewaan di bulan Ramadhan itu sendiri. Sehingga bualan suci Ramadhan menjadi tidak ada bedanya dengan bulan yang lainya. Jelaslah, bahwa bulan suci ini berbeda dengan bulan yang lainya karena bulan tersebut memberikan kesempatan pada kita untuk mengistimewakan nurani dan fitrah kita sebagai seorang manusia.
Tanpa adanya kesiapan dari diri kita dalam menyambut bulan suci Ramadan, menggambarkan bahwa diri kita kurang akan rasa cita dengan bulan Ramadhan. Sepenting dan se-mulia apa pun seorang tamu, menjadi tidak istimewa jika tanpa sambutan yang berarti. Padahal, layaknya ketika kita hendak menyambut seseorang tamu istimewa, segala sesuatunya akan di persiapkan. Mulai dari kebersihan rumah, tata letak ruangan, bahan pembicaraan, hingga menu jamuan makanan dan minuman yang kelak disediakan.
Tarhib Ramadhan atau upaya menyambut bulan mulia ini, menjadi begitu penting agar kelak kita menyadari apa sebetulnya hikmah dan manfaat yang hendak diberikan sang tamu. Ramadhan (sang tamu) datang dengan ribuan hikmah yang hendak diceritakan pada kita bagaimana menghadapi hidup yang penuh berkah ini untuk menuju alam akhirat.
Ibnu Mandzur (630-711 H), seorang ahli bahasa Arab, menjelaskan bahwa Ramadhan berasal dari kata al-ramadh yang artinya panas batu akibat sengatan sinar matahari. Ada juga yang mengatakan, Ramadhan diambil dari akar kata ramidha yang berarti keringnya mulut orang yang berpuasa akibat haus dan dahaga.
Gambaran dari makna kata di atas, Ramadhan tak lain simbol dari sengatan sinar matahari yang bisa ‘memengaruhi’ dan ‘memanaskan’ batu. Batu, sering pula menjadi simbol dalam Al-Qur’an saat menyorot kerasnya hati seorang manusia. Hati yang tidak memiliki ruh petunjuk dan kepekaan terhadap orang lain, sering diumpamakan sebagai ‘hati batu’. Tidak punya sense dan kepekaan apa-apa selain kaku dan membisu.
Sekalipun hati seseorang keras seperti batu, Ramadhan sanggup membuatnya panas dan terpengaruh. Seseorang yang berhati kaku dan kurang peka terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya bisa berubah seketika jika ia mau menerima ajaran selama bulan Ramadhan.
Demikian perumpamaan bagi hidup yang berkah. Hidup yang hampa menjadi penuh makna. Ramadhan bisa menggerakkan hati kita utuk segera menuai keberkahan hidup melalui ajaran-ajaran yang di sampaikannya. Ramadhan dengan berbagai ajarannya hendak mengubah hati yang lesu menjadi kuat, yang padam menjadi terang, yang bisu menjadi bicara, hati yang keras menjadi mudah meleleh, dan hati yang loyo menjadi segar bersinar.
Kekuatan hati yang tersentu ajaran Rramadhan, bukan saja mampu mendorong dirinya, melainkan bisa menjadi daya dan kekuatan bagi orang lain. Keberkahan hati, adalah keberkahan seluruh tubuh, perilaku, dan seluruh kegidupan seorang. Sebab, jika hati baik, semua akan mencerminkan yang baik-baik. Sebaliknya, apabila hati buruk maka segala sesuatunya menjadi buruk. Mulai dari niat, perbuatan, maupun pikiran menjadi buruk karena komandonya pun buruk.
Menyongsong Ramadhan merupakan menyongsong gerak hati dan pikiran. Ramadhan menyediakan tiga puluh hari saja dalam mengubah visi, misi, dan arah pikiran kehidupan seseorang. Melalui puasa di siang harinya, shalat tarawih malam harinya, beri’tikaf di sepertiga akhirnya, dan membayar zakat merupakan suatu penyucian harta dan menjadi bukti kepedulian sosial pada yang lain, sehingga akan menuai kesucian di penghujung bulannya.
Menyosong Ramadhan adalah menyosong kesucian hati dengan memberi makanan pada ruhani. Sebagaimana halnya tubuh jasmaniah, hati pun perlu diberi makanan. Tanpa makanan, hati akan selalu lunglai secara ruhaniah. Mangkanya pun ada yang bergizi dan tidak. Makanan nurani yang bergizi, akan membuat hati menjadi muliah dan besar meski tidak semulia dan sebesar jasmaninya.
Hati Ramadhan adalah hati yang penuh kemuliaan dan cahaya. Hati yang mengajarkan hidup menjadi benar-benar hidup. Pada hakikatnya, kebahagiaan hidup tidak sepenuhnya ditentukan oleh kekayaan luar yang kita miliki. Sebelum memiliki apapun, kita sesunggunya memiliki hati sebagai kekayaan manusia yang tiada bernilai. Yang miskin bisa menjadi kaya, yang susah bisa menjadi senang, yang sempit bisa berubah lapang, yang putus asa bisa jadi berbesar hati. Pokoknya, muliah atau tidak hidup, bermakna atau tindaknya hidup, bergantung pasa upaya kita memaknai hal itu sendiri.
Ada beberapa keistimewaan dan ke agungan yang bisa kita raih di bulan Ranadhan, yang tidak bisa kita dapatkan di bulan-bulaan lainya, baik dari segi ibadanya maupun nilai pahala yang berlipat ganda yang Allah sediakan khusus di bulan Ramadhan bagi hamba-Nya yang mengerjakan.
Yang pertama, puasa Ramadhan. Sunggu teramat mulia wahai engkau sang Ramadhan! Engkau ajarkan pengikutmu bagaimana berbagi cerita kehidupan dengan orang lain melalui ritual puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kata “puasa” berarti menahan. Sedangkan secara terminologi puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dengan syarat-syarat tertentu, seperti menahan diri dari kegiatan makan dan minum, serta hawa nafsu dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.
Dalam Islam, puasa terbagi menjadi dua, yaitu puasa wajib dan sunah. Puasa diyakini sebagai bukti bahwa seseorang cinta kepada Allah SWT, dan Rasul-Nya. Tidak heran jika umat muslim menjalankan puasa, bukan hanya puasa wajib, tetapi juga sunah. Orang yang cinta kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya, pasti akan melakukan apa yang diperintah dan dan menjauhi apa yang di larang-Nya. Begitu juga dengan puasa, puasa merupakan manifestasi cinta seorang hambah kepada Tuhannya.
Dalam agama Islam, puasa disyariatkan oleh Allah SWT sebagaimana tertulis didalam Al-qur’an surah Al-Baqarah ayat 183.
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183)
Secara teknis syariah, puasa adalah menahan diri untuk tidak makan dan minum semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam praktiknya, untuk lebih berhati-hati, ada yang disebut waktu imsak yang berarti menahan. Maksudnya adalah waktu sesaat sebelum terbitnya fajar (kira-kira 5-10 menit). Ketika itu, setiap muslim yang berpuasa hendaknya berhenti dari makan dan minum termasuk merokok, minum obat, hubungan seksual atau aktivitas lain yang bermakna memasukan sesuatu ke dalam diri atau badan manusia hingga tiba terbenamnya matahari.
Cinta menjadi tujuan dari kegiatan puasa yang sedang di jalankan. Sehingga, ia merupakan jawaban dari pertanyaan, “Untuk apa ia berpuasa?” Cinta yang diinginkan tentulah cinta sejati, cinta yang agung dan sangat mulia, cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta terhadap Allah SWT dan cinta terhadap Rasulullah saw.
Terlalu kecil nilainya dan terlalu sempit ruangnya kalau berpuasa hanya demi meraih cinta dan kasih seseorang yang sudah pasti banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, berpuasalah demi meraih cinta dan kasih sayang dari Zat Yang Mahaluas dan tak terbatas, Maha Memiliki cinta, Maha mendatangkan cinta di hati setiap hambah yang dikehendaki-Nya, yaitu cinta Allah SWT. Sebab, jika cinta-Nya telah dapat kita raih, pasti kita akan dapat dengan mudah meraih cinta makhluk-Nya.
Di sini, kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan “Mengapa ia harus berpuasa? Apa alasan ia berpuasa? Apa latar belakangnya?” ketika cinta yang menjadi alasan, ini berarti masalahnya adalah urusan batin yang merasakan kesenangan dan kebahagiaan.
Apabilah batin bahagia, tentu penderitaan badan tidak lagi terasa. Seorang santri giat dan semangat belajar karena kecintaanya kepada ilmu. Seorang suami giat dan semangat bekerja mencari nafkah karena kecintaanya terhadap keluarga dan rumah tangganya.
Begitu juga, sebagian masyarakat Indonesia baik rakyat besar maupun rakyat kecil pada berlomba-lomba mendonasikan sebagian hartanya untuk saudara-saudaranya yang kelaparan dan kekurangan kebutuhan pokok akibat pandemi covid-19, yang tidak lain karena rasa solidaritas dan rasa cintanya terhadap rakyat serta negara Indonesia.
Ketika kita jatuh cinta pada nilai-nilai dan ajaran agama Islam, puasa yang di wajibkan setiap bulan Ramadhan seolah tidak cukup sehingga kita perlu menambah puasa sunah enam hari pada bulan Syawal. Kita melakukan puasa sunah tiga hari setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Qamariyah, bahkan kita berpuasa sunah setiap hari Senin dan Kamis. Kalau masih terasa kurang, puasa Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.
Kecintaan terhadap puasa adalah kecintaan yang sangat cenderung pada kecintaan terhadap Allah SWT. Sebab Allah SWT secara tegas menyatakan dalam hadits qudsi, “Bahwa puasa itu untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Yang kedua, salat Tarawih di malam bulan Ranadhan. Salat Tarawih adalah salat sunah malam yang dikerjakan pada bulan Ramadhan, yang hukumnya sunah muakkadah, boleh di kerjakan sendiri maupun berjamaah. Salat Tarawih dilaksanakan sesudah salat Isya hingga menjelang azan Subuh.
Di zaman Rasulullah saw, salat Tarawih di kerjakan sebanyak delapan rakaat dengan dua rakaat salam. Sedangkan pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, salat Tarawih dikerjakan sebanyak dua puluh rakaat dengan salat Isya dan di tambah salat Witir tiga rakaat.
Adapun keutaman dari salat Tarawih ialah, sabda Rasylullah saw. “siapa yang menunaikan ibadah salat pada malam-malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan semata-mata karena Allah, niscaya diampunkan oleh Allah dosa-dosanya yang lalu.
Yang ketiga, peristiwa yang tidak kalah pentingnya dan di tunggu-tuggu oleh orang-orang muslim ialah malam Lailatul Qodar. Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh dengan kemuliaan dimana seseorang yang mendapat keberkahan dari malam Lailatul Qadar maka ia akan mendapat pahala yang berlipat atau pahala ganda. Malam Lailatul Qadar ini hanya akan terjadi pada bulan Ramadhan, maka ketika Ramadhan telah datang akan banyak pula orang yang siap-siap berburu untuk mendapatkan pahala ganda dari malam Lailatul Qadar tersebut. Karena terjadinya dalam satu tahun hanya satu kali dan itu pun hanya dalam bulan puasa Ramadhan.
Berbeda lagi dalam dalil Alquran yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu malam kemuliaan.
"Sesungguhnya kami menurunkan (Alquran) pada malam lailatul qadar. Tahukah kamu, apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Qadar adalah lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, (membawa segala urusan), (seluruh malam itu) sejahtera sampai terbit fajar." (Q.S. Al-Qadr Ayat 1-5)
Dalam ayat tersebut dijelaskan malam Lailatul Qadar kenapa bisa disebut malam kemuliaan. Lalu dijawab pada ayat 3 yang berbunyi malam Qadar adalah lebih baik daripada seribu bulan. Jelas di malam itu ketika malaikat-malaikat turun ke bumi maka suasana alam akan berbeda dari sebelumnya. Selain itu, doa-doa yang dipanjatkan kepada llahi akan diaminkan oleh malaikat-malaikat tersebut sehingga menjadi mempercepat pengabulan doa hamba-hamba-Nya. Maka sungguh beruntunglah orang-orang yang ketika malam Lailatul Qadar dapat memohon doa kepada-Nya dengan didoakan pula oleh malaikat-malaikat yang kebetulan sedang bertugas turun ke muka bumi.
Dan yang terakhir ibadah yang terdapat di bulan Ramadhan ialah mengeluarkan Zakat Fitri/Fitrah. Zakat fitri adalah semacam sedekah dengan kadar tertentu yang dibayarkan/dikeluarkan setiap muslim di bulan Ramadhan sebelum salat ied untuk mensucikan puasanya.
Ketika mulai masuk bulan Ramadhan dan menjelang usai puasa Ramadan, umat Islam diperintahkan membayar zakat fitrah dalam rangka membantu fakir miskin. Sesuai makna harfiahnya, zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan harta dan kepemilikan dari hak orang lain yang masih tersimpan di dalamnya.
Zakat memberikan arti penting pada kehidupan bermasyarakat. Hak seseorang, ada pada kewajiban orang lain. Begitu pula sebaliknya, hak orang lain banyak yang dititipkan padanya. Hendaknya seseorang tidak dulu menganggap apa yang menjadi miliknya adalah miliknya sebenarnya. Khawatir, banyak sekali amanah kekayaan bagi orang lain kemudian dititipkan oleh Allah SWT kepadanya. Orang kaya yang kikir, berarti tidak menyadari harta kekayaannya, hakikat nya titipan untuk orang miskin dan berkekurangan.
Begitulah makna dan keistimewaan yang terdapat di bulan suci Ramadhan, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan Allah angkat derajat kita ketempat yang lebih tinggi dari sebelumya, sehingga ketika kita meninggalkan bulan suci Ramadan dan masuk ke bulan Syawal, diri kita menjadi fitri seperti semula.