17 Ramadhan Momentum Refleksi Kesadaran Beragama

17 Ramadhan Momentum Refleksi Kesadaran Beragama

Oleh: Jimi Muhammad

Arus deras perubahan pola kehidupan seorang muslim yang dinamis dan positivis akan berdampak signifikan pada nilai-nilai dasar pada tatanan kayakinan melalui segala sesuatu keunikan dan keindahan penciptaan yang tidak terlepas dari Sang Creator yaitu Allah Swt sebagi dzat tunggal yang patut di sembah dan diyakini akan kebesaran dan keagungannya.

Allah Swt menciptakan segala sesuatu tidak lepas dari keistimewaan yang menyertainya, keistimewaan ini lahir dari pengejawantahan atas kecintaan-Nya akan peristiwa tertentu yang merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Di antara penciptaan istimewa ini Allah Swt menjadikan satu waktu dalam bulan suci Ramadhan sebagai momentum bersejarah bagi umat Islam yaitu peristiwa turunnya al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) sebagai sumber hukum dari segala hukum syariat dan merupakan mukjizat terbesar dari Allah Swt yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw untuk menjadi jalan hidup seluruh umat manusia di seluruh belahan dunia yang meyakini keberadaannya.

Bagi umat Islam di seluruh alam jagat raya pasti meyakini bahwa tidak ada peristiwa paling menggembirakan dan paling menguras emosional bagi umat Islam selain peristiwa Nuzulul Qur’an. Para ulama mengilustrasikan dan menyimpulkan bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an tersebut sebagai sebuah malam terbaik dan diberkahi oleh Allah Swt.

Selain peristiwa ini berada dalam lingkup bulan Ramadhan, momentum Nuzulul Qur’an diresapi sebagai momentum yang membawa banyak keberkahan dalam pribadi kaum muslim dan persatuan untuk menggapai kesempurnaan sebagai umat beragama yang dipedomani oleh kitab-Nya.

Peristiwa turunnya al-Qur’an bersamaan dengan peristiwa pertama kalinya umat Islam menghunuskan pedang atas nama Allah demi menegakan api kebenaran, dalam perang besar ini terjadi di tempat antara Makkah dan Madinah yang dikenal dengan daerah Badar, dengan turunnya Al-Qur’an menunjukan bahwa hari ke-17 ramadhan sebagai suatu anugrah yang patut kita syukuri dan renungkan bersama, walaupun hal mengenai tanggal turunnya al-Qur’an ini tidak terlepas dari nuansa perdebatan para munfassir, namun mayoritas ulama sepakat bahwa tanggal 17-lah waktu turun tersebut, para ulama berpendapat demikian karena hal ini sesuai dengan rujukan pada surat al-Anfal ayat 41 yang berbunyi:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam karya tulisan “Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an” yang ditulis oleh Taufik Adnan Kamal memberikan uraian bahwa para mufassir menafsirkan bahwa kata “furqaan” bermakna bertemunya dua pasukan antara kaum muslim dan kafir Quraisy yang terjadi pada saat perang Badar bertepatan pada tanggal 17 ramadhan.

Maka peristiwa besar ini dimuliakan oleh Allah dengan adanya turunnya Al-Qur’an yang oleh umat Islam sering kita peringati sebagai hari besar bagi umat Islam, pada waktu ini Allah Swt menurunkan ayat pertamanya yang termaktub dalam surat al-Alaq ayat 1-5, yang pada saat itu Nabi Muhammad Saw sedang bertahanus/mengisolasi untuk bermunajat kepada Allah Swt di dalam gua Hiro.

Hal ini memotivasi umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan suatu perayaan atau lebih bertakarrub kepada Allah Swt. Pada hari ini umat Islam berbondong-bondong meramaikannya dengan mengadakan beberapa kegiatan bermanfaat seperti Khataman al-Qur’an, Istigosah, pengajian hingga acara Pildacil. Hal ini tidak terlepas dari perenungan makna istimewa atas segala sesuatu untuk memuliakan keberadaa Allah Swt sebagai wujud peningkatan kesadaran keislaman seseorang.

Dengan adanya peristiwa Nuzulul Qur’an hendaknya umat Islam meningkatkan penjiwaan rasa keislaman, keimanan, sikap dan perilaku keberagamaan yang senantiasa tertuang dan terorganisir dalam sikap dan mental kepribadian pemeluknya. Karena dengan makna kesadaran yang kuat terdapat bagi siapa saja umat Islam sejatinya semua pemeluk agama lain pun akan mencurahkan dan melibatkan seluruh fungsi jiwa raganya, hingga mencakup aspek-aspek positif lainnya untuk memenuhi kebutuhan jiwanya.

Karena adanya kesadaran beragama dengan nuansa perilaku memuliakan ini hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang memiliki kesadaran kritis tentang hakikat makna Nuzulul Qur’an dan visi yang terkandung di dalam peristiwa tersebut hingga tradisi ini sampai dijadikan gaya hidup mengenai motivasi, mengerti sekaligus meyakini sebagai menifesta ketuhanan untuk menggapai berkahnya Ramadhan yang tertuang dalam keimanan dan pola gerak tingkah laku beragama yang menyentuh pada taraf akal pikiran dan hati pemeluknya.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler