NUZULUL QUR’AN
NUZULUL QUR’AN
Oleh: Ladiya Majid
- Pengertian Asbab An - Nuzul
Al – Qur’an adalah wahyu atau kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia. Al – Qur’an sebagai pedoman dan sumber dari segala aturan hidup dan kehidupan manusia, yang disajikan secara general dan universal, membutuhkan ilmu – ilmu yang lain agar isi dan kandungannya dapat dengan mudah dipahami serta memberikan pelajaran bagi kehidupan umat manusia.[1]
Kesempurnaan Al – Qur’an sebagai kalam Ilahi dengan kelengkapan penafsirannya melalui lisan dan tingkah laku Rasul Allah sering dianggap tidak mampu memberikan jawaban atas tuntutan hidup dalam kehidupan manusia, bahkan kadang – kadang dianggap berlawanan dengan kebutuhan kehidupan. Keadaan yang semacam ini bukan berarti Al – Qur’an dan Al – Sunnah sebgai wahyu Allah kurang sempurna, tetapi karena keterbatasan berfikir dan kemampuan manusia yang lemah. Oleh karena itu Al – Qur’an adalah pedoman atau petunjuk hidup bagi manusia, maka Allah sendiri yang menjamin keselamatannya sepanjang masa.[2]
إنا نحن نزلنا الذ كروإنا له لحا فظون
“ sesungguhnya kami telah menurunkan Al – Qur’an dan sesungguhnya kami tetap memeliharanya ”.
Al – Qur’an adalah kalam Allah yang memiliki kekuatan rohaniah yang hebat sebagaimana yang dinyatakannya sendiri. Sebab hanyalah Al – Qur’an yang dapat membimbing manusia menuju arah kesempurnaan. Kuat dan lemahnya ataupun maju dan mundurnya umat islam tergantung pada sikapnya terhadap Al – Qur’an, Al – Qur’an mempunyai fungsi lain selain dibaca dengan lagu – lagu merdu, atau hanya digunakan untuk musabaqah tilawatil Qur’an, tetapi Al – Qur’an juga berfungsi dikehidupan masyarakat guna untuk diamalkan dan disosialisasikan. Al – Qur’an juga bisa menjadi obat dari segala macam penyakit rohani atau batin yang diderita oleh manusia. Al – Qur’an juga berfungsi sebagai cahaya petunjuk bagi mereka yang berkelana meraba – raba dalam kegelapan.[3]
Adapun pengertian asbabun nuzul itu sendiri menurut bahasa ( etimologi ) yaitu turunnya ayat – ayat Al – Qur’an dari kata “ asbab “ jamak dari “ sababa” yang artinya sebab – sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud dengan kata turun disini adalah ayat Al – Qur’an Asbab An- Nuzul adalah suatu peristiwa atau pertanyaan baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan turunnya ayat AL –Qur’an oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, secara berangsur – angsur atau bertahap dengan waktu kurang lebih 23 tahun dengan tujuan untuk memperbaiki akidah, ibadah, akhlak, dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran.[4]
Pengertian Asbab An – Nuzul menurut salah satu tokoh pakar Tafsir di Indonesia yaitu Dr. M. Quraish Shihab, beliau mengatakan Asbabun Nuzul bukanlah dalam artian hukum sebab akibat hingga seakan – akan tanpa adanya suatu peristiwa atau kasus yang terjadi maka ayat itu tidak akan turun. Pemakaian kata asbab bukanlah dalam arti yang sebenarnya. Tanpa adanya suatu peristiwa pun Al – Qur’an tetap diturunkan oleh Allah SWT sesuai dengan iradat – Nya. Begitu pula dengan kata An – Nuzul, bukan berarti turunnya ayat Al – Qur’an dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, karena Al – Qur’an bukan bebentuk fisik atau materi. Itulah pengertian Asbab An – Nuzul menurut Dr. M. Quraish Shihab.[5]
- Metode Al – Qur’an Diturunkan
Ada dua tahap penurunan Al – Qur’an, yaitu :
- Dari Lauh Mahfudz ke langit – dunia ( sekaligus ) pada waktu lailatul qadar.
- Dari langit – dunia menuju ke bumi ( secara berangsur – angsur ) dalam jarak waktu 23 tahun.
Pada tahap penurunan awal Allah SWT, menurunkan Al – Qur’an secara sempurna (utuh) pada suatu malam yang penuh berkah diantara malam – malam setahun, yaitu saat lailatul qadar, ke Baitul ‘Izzah di langit – dunia. Ada beberapa nash yang menunjukan hal tesebut.[6]
Ayat – ayat tersebut menunjukan bahwa Al – Qur’an itu diturunkan pada malam yang sama, yaitu malam yang penuh berkah dan mulia diantara malam – malam bullan Ramadhan. Oleh karena itu, penurunan yang dimaksud oleh ayat – ayat tersebut adalah tahap penurunan kedua kepada Nabi Muhammad SAW, tentu tidak sama bahwa tahap penurunan kedua itu pada malam dan bulan yang sama. Hal ini kita ketahui Al – Qur’an diturunkan pada jarak waktu yang lama, yaitu pada masa bi’tsah selama kurang lebih 23 tahun. Maka jelas bahwa yang dimaksud oleh ayat – ayat tersebut adalah tahap penurunan pertama ( awal ).
Berdasarkan dari keterangan Ibnu Abbas r.a yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dan Imam Thabraniia berkata : “ Al – Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia dengan jumlah satu kemudian diturunkan semacamnya.” (H.R. Thabrani). Dalam hikmah turunnya Al – Qur’an secara bertahap dan bersifat alami untuk memperbaiki jiwa manusia, meluruskan perilakunya, membentuk kepribadian, dan memnyempurnakan eksistensinya sehingga jiwa itu tumbuh dengan tegak diatas pilar – pilar yang kokoh dan mendatangkan buah yang baik bagi kebaikan umat manusia seluruhnya dengan izin Allah SWT.[7]
Disamping itu cara penurunan Al – Qur’an secara bertahap juga merupakan kekhasan tersendiri bagi umat Islam, sebab kitab – kitab samawi yang terdahulu diturunkan secara sekaligus. Hikmah yang timbul dari cara itu sangat besar, bagi Nabi SAW ataupun untuk kaum muslimin. Bagi Nabi, ayat – ayat Al – Qur’an akan mudah untuk dipahami dan dihafal, selain itu juga supaya beliau merasa terhibur dengan kedatangan wahyu dan tidak akan cepat kecewa bila menghadapi tantangan. Bagi kaum muslimin cara seperti itu akan lebih mudah dipahami dalam memahami Islam secara bertahap sesuai dengan tuntutan kondisi dan kemampuan menjalankannya.[8]
[1] Mukarromah Oom, Ulumul Qur’an, ( Raja Grafindo : Jakarta, 2013 ) hlm. 125.
[2] Ibid, hlm. 126.
[3] Ibid, hlm. 127.
[4] Jamuna Ulfah, Evi Damayanti, Asbab An – Nuzul, Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syaifuddin Sambas, hlm. 2.
[5] Ibid, hlm. 3.
[6] Mukarromah Oom, Ulumul Qur’an, ( Raja Grafindo : Jakarta, 2013 ) hlm. 126.
[7] Ibid, hlm 127.
[8] Ibid, hlm. 128.