Pengaruh Rutinitas Membaca al-Qur’an Terhadap Kesehatan Mental

Pengaruh Rutinitas Membaca al-Qur’an Terhadap Kesehatan Mental

Oleh: Haniaturizqia

Secara umum, manusia memiliki tiga potensi penting yaitu potensi fisik, potensi akal dan potensi hati (qolbu). Potensi hati inilah yang dapat menjadikan otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia. Bila hati tidak dijaga dan dibimbing, tidak menutup kemungkinan dia harus mengalami perawatan karena hati terkena penyakit. Apa dan dimanakah letaknya hati ? tentu orang akan menjawab bahwa hati ada di dalam dada. Dan jawaban itu tidaklah salah. Ada pusat saraf di dalam dada manusia yang begitu sensitif terhadap perasaan, sehingga dianggap sebagai hati. Bila seseorang merasakan kenikmatan yang hebat, maka kenikmatan itu berada pada pusat saraf tersebut.

Menurut Rizal Ibrahim, al-Qalb mengandung pengertian yang terbagi dalam: Jantung, berupa segumpal daging berbentuk bulat memanjang, yang terletak di pinggir dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging dengan tugas khusus yang di dalamnya ada rongga-rongga yang mengandung darah hitam sebagai sumber ruh. Hati serupa juga dengan yang ada pada hewan, bahkan pada orang yang telah mati. Bila disebut al-Qalb sesungguhnya bukan termasuk alam nyata, seperti alam yang dapat ditangkap dengan pancaindra kita.[1] Hati berupa sesuatu yang halus (latifah) yang bersifat ketuhanan (rabbaniyah) dan ruhani yang ada hubungannya dengan jasmani. Hati (al-Qalb) yang halus itulah hakikat manusia yang dapat menangkap segala rasa serta mampu mengetahui dan mengenal segala sesuatu.

Dalam kehidupan yang serba modern, umat Islam membutuhkan sistem ilmu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, baik material maupun spiritual, sedangkan ilmu yang ada sekarang belum memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, karena masih mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Kenyataan membuktikan bahwa ilmu modern menimbulkan ancaman-ancaman bagi kelangsungan dan kehidupan umat manusia dan lingkungannya. Umat Islam pernah memiliki suatu peradaban Islam, ilmu berkembang sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan umat, sehingga untuk menciptakan kembali ilmu Islam dalam peradaban yang Islami perlu dilakukan Islamisasi ilmu.[2] Al-Qur’an adalah kitab suci yang mulia.di dalamnya terdapat petunjuk, nasehat, dan contoh bagi orang-orang yang berfikir. Setiap muslim hendaknya menjaga kedekatan dengan al-Qur’an, dengan membacanya, memahaminya, serta terus berinteraksi dengannya. Tak ada waktu yang terlewat kecuali al-Qur’an selalu bersamanya. Dengan cara seperti itu ia akan mendapatkan petunjuk dan nasehat dari al-Qur’an.[3] Membaca al-Qur’an adalah sebaik-baik penawar hati dan penentram jiwa bagi orang yang membacanya, karena di dalamnya mengandung perintah dan hukum-hukum Allah, serta mengajak kita untuk beribadah kepada-Nya. Sesuai firman Allah dalam (Qs: Al-isra’: 82) yang artinya : ‘Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Qs: al-Isra’: 82).[4] Pengaruh al-Qur’an terhadap tubuh seseorang dapat terlihat pada terjadinya bentuk-bentuk perubahan terutama pada arus listrik otot urat saraf. Selain itu, perubahan juga terjadi pada daya tangkap kulit terhadap konduksi listrik, sirkulasi darah, detak jantung, kadar darah yang mengalir pada kulit dan suhu kulit yang kesemuanya saling kait-mengait satu sama lain, sehingga perubahan pada satu bagian akan berpengaruh pada bagian-bagian tubuh yang lain.[5]

Terjadinya perubahan pada beberapa bagian dalam tubuh oleh sebab al-Qur’an ini menunjukkan bahwa fungsi dan kinerja sistem saraf reflektif yang dapat berpengaruh pada organ-organ tubuh yang lain. Begitu juga dengan semua fungsi-fungsinya. Karena itu, ada semacam kemungkinan yang tak terbatas tentang adanya pengaruh al-Qur’an terhadap sisi fisiologis manusia. Selain itu, hal yang tak kalah penting diketahui adalah kondisi stres sangat berpotensi menurunkan imunitas (daya kekebalan) tubuh seseorang. Stres kemungkinan dapat disebabkan oleh sekresi kortisol atau zat lain sebagai reaksi antara sistem saraf dan sistem kelenjar endokrin. Oleh sebab itu, jika al-Qur’an dapat mempengaruhi saraf sehingga bisa menjadi rileks, maka hal itu juga menjadi pertanda bahwa efek relaksasi al-Qur’an dapat mengaktifkan kembali fungsi daya tahan tubuh yang berperan besar dalam melawan penyakit atau membantu proses penyembuhan.

Kebiasaan membaca al-Qur’an merupakan sebuah rutinitas, keseriusan dalam kegiatan membaca al-Qur’an yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari baik perorangan maupun berjamaah dan semata-mata hanya untuk ibadah kepada Allah Swt. Rutinitas membaca al-Qur’an disini ialah kebiasaan membaca al-Qur’an yang dilakukan secara berulang-ulang baik dengan dipahami atau tidak.

Dampak yang paling fundamental ketika seseorang melakukan rutinitas membaca al-Qur’an adalah ia akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kedamaian hati, jika jiwa dalam keadaan tenang, maka ketika seseorang yang terkena suatu masalah ia akan menyikapinya dengan tenang pula sehingga ia akan mendapatkan jalan keluar yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jika sseseorang sudah dapat melakukan rutinitas membaca al-Qur’an maka lama kelamaan membaca al-Qur’an menjadi suatu kebutuhan, sehingga al-Qur’an akan menjadi pedoman untuk hidup bermasyarakat maupun pedoman untuk beribadah kepada Allah Swt. Dari pedoman tersebut seseorang yang rutin membaca al-Qur’an akan tercermin secara fisik dapat dilihat dari tingkah laku yang ber-akhlak karimah, kalau secara psikis dapat dilihat dari keimanan, ketaqwaan dan juga rasa tawakal pada Allah.

Bacaan al-Qur’an umumnya memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti memberikan efek menenangkan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menyembuhkan berbagai penyakit, menciptakan suasana damai dan meredakan ketegangan saraf otak, meredakan kegelisahan, mengatasi rasa takut, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemampuan berbahasa dan lain-lain. Membaca al-Qur’an merupakan salah satu metode dalam mengatasi masalah hati dan meningkatkan kesehatan mental.[6] Membaca al-Qur’an senantiasa menjadikan hati kita lebih tenang dan damai, karena dengan membaca al-Qur’an secara tidak langsung kita sedang menghadap Allah Swt. Selain itu, membaca al-Qur'an merupakan media tazkiyatun nafs atas segala penyakit-penyakit hati. Yang dimaksud sarana tazkiyah adalah berbagai amal perbuatan yang mempengaruhi jiwa secara langsung dengan menyembuhkannya dari penyakit, membebaskannya dari “tawanan“ atau merealisasikan akhlak padanya.[7] Dapat pula dikatakan bahwa membaca al-Qur'an merupakan ibadah yang bertujuan membersihkan kesucian dan penyakit-penyakit jiwa manusia, yang dengannya manusia akan mampu mencapai kehidupan abadi dan sejahtera di kemudian hari.

Jadi, untuk terhindar dari gangguan mental,[8] diperlukan perangkat keimanan untuk mewujudkannya. Faktor keimanan ini bisa diperoleh dari membaca al-Qur'an, karena dengan bacaan al-Qur'an sendiri merupakan rangkaian iman dalam Islam. Selanjutnya sebagai sarana peningkatan aqidah kita adalah melakukan ibadah, ibadah bukan hanya merupakan suatu ketaatan yang sangat, ketaatan itu muncul di perasaan hati untuk mengagungkan Tuhan yang disembah, ibadah kepada Allah merupakan sarana peningkatan mental yang sehat, beribadah kepada Allah artinya selalu taat menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam suatu bentuk ketaqwaan dan keimanan. Diantara bentuk ibadah kepada Allah yaitu menjalankan shalat, puasa, membaca al-Qur’an dengan artinya ibadah lainnya seperti halnya dengan sholat.

  1. Rizal Ibrahim dalam : Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Terj. Gazi Saloom (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), 379.
  2. Muhaimin, Pendidikan Agama Islam Berwawasan Rekonstruksi Sosial (Malang : UIN Malang,2004)
  3. Adam Cholil, Dahsyatnya Al Qur’an, (Jakarta Selatan: AMP Press, 2014), hlm. 123.
  4. Departement Agama RI, al-Qur’an dan tejermahnya, ( Bandung:CV Diponegoro,2010), h.290.
  5. Salman Rusydie Anwar, Sembuh dengan al-Qur’an (Yogyakarta:Safinah,2011), hlm.40
  6. Zakiyah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, Bulan Bintang, Jakarta, 1982,hlm.74-79.
  7. Said Hawa, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu, Robbani Press, Jakarta, 2000, hlm.
  8. Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1982, hlm. 12-13.


Kolom Terkait

Kolom Terpopuler