Kapabilitas Aplikasi Tiktok Sebagai Media Kesenian Islam di Masa Pandemi
Al-Qurr'a/Edisi 26
KAPABILITAS APLIKASI TIKTOK SEBAGAI MEDIA KESENIAN ISLAM DI MASA PANDEMI
Oleh : Azkiyatunnisa' (Div. Tafsir 2021) Pemenang 1 Lomba Essay Diklat 2021
Pandemik telah menemani hidup manusia di seluruh dunia sudah hampir satu setengah tahun setelah covid 19 dinyatakan sebagai pandemik oleh WHO sejak Maret tahun lalu. Di Indonesia, Covid 19 sendiri secara tidak disadari sangat berpengaruh dalam perubahan sosial masyarakat. Baik dalam lingkup mikro seperti kehidupan sehari-hari maupun lingkup makro dalam masyarakat luas. Tidak bisa dipungkiri bahwa covid 19 juga menjadi kendala dalam berbagai bidang, mulai dari perekonomian yang tidak stabil, pendidikan yang terganggu yang mengakibatkan sekolah dan instansi lainnya menunda waktu pembelajaran tatap muka, hingga acara penting seperti kegiatan organisasi, pesta pernikahan, pagelaran dan lain-lain tidak bisa diselenggarakan seperti biasanya.
Pun pada bidang kesenian. Kesenian yang bersifat luas, tidak dilambangkan dengan tarian dan lukisan saja. Kesenian menurut Kuntjaraningra kesenian adalah suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan dimana kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat dan biasanya berwujud fender-bender hasil manusia. Seni yang bisa diklasifikasikan kedalam tiga wujud. Audio art atau seni yang dinikmati dengan suara, contohnya seperti seni sastra vokalisasi puisi, pantun,prosa , seni musik, seni suara. Dalam seni suara terdapat banyak cabang seni baik yang berbasis umum maupun berbasis seni keagamaan seperti karawitan,qasidahan,seni tilawah. Yang kedua, Visual art atau seni yang dinikmati melalui panca indera seperti lukisan, seni bangunan, seni beladiri ,poster ,karikatur dan sebagainya. Yang ketiga audio visual art yaitu seni yang bisa dinikmati dengan panca indera dan pendengaran. Contohnya seperti seni pertunjukan seperti drama musikal, pagelaran wayang kulit, film dan masih banyak lagi.
Sejalan dengan adanya pandemik covid 19, berbagai bentuk kesenian seperti yang tersebut diatas terkendala dalam pelaksanaannya. Merujuk dengan apa yang dikatakan Luki Safriana dalam artikelnya. Industri seni pertunjukan Indonesia mengalami guncangan hebat akibat dampak globalpandemi corona. Tercatat sekitar 40.081 seniman tergeruscovid 19 akibat pembatalan pertunjukan dan festival seni. Daerah-daerah episentrum pekerja seni mayoritas didominasi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.Tidak hanya itu, diprediksikan bahwa intensitas tersebut kian bertambah hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.
Alih-alih bekerja dengan baik,para seniman dihadapkan dengan realita pahit, yang mana mengharuskan work from home, sosial distancing dan PPKM akibat pandemik. Adanya pandemik covid 19 ini, sangat tidak terduga bahwa Indonesia akan mengalami migrasi besar-besaran dari media offline menuju media online. Bahwa media online-lah salah satu cara yang paling tepat untuk mengisi kekosongan setelah kegiatan sosial dibatasi. Tentu saja ini merupakan tantangan bagi para seniman untuk mendapatkan hati para penikmat seni, yang berpotensi adanya penurunan minat masyarakat dalam apresiasi sebuah seni itu sendiri. Karena akan sangat berbeda ketika seni disuguhkan dan dinikmati secara langsung dengan yang hanya dinikmati melalui media online.
Selaras dengan apa yang penulis cantumkan pada judul diatas, tiktok dalam media kesenian islam memiliki peran penting, khususnya di masa pandemik sekarang. Aplikasi tiktok adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik yang memfasilitasi para pemakainya untuk menyunting video sesuai kreasi mereka. Walaupun sempat diblokir di Indonesia dalam beberapa waktu lalu akibat menuai pro kontra, aplikasi ini tetap bertahan dan menunjukan kebolehan eksistensinya. Disamping berbagai kelemahan dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, tiktok juga memiliki banyak kelebihan salah satunya dalam branding dan marketing. Tiktok menyediakan fitur like, comment, follow,share dan upload untuk kebutuhan berinteraksi antar pengguna aplikasi.
Berkaitan dengan kesenian yang terkendala oleh pandemik, Tiktok adalah salah satu media untuk tetap berkarya dalam hal apapun. Disamping itu ada faktor pendukung dari masyarakat yang lebih gemar menonton video lewat gawai. Berdasarkan hasil riset dari Millward Brown tentang AdReaction: Video Creative in a Digital World, teridentifikasi bahwa pengguna multi layar di Indonesia menghabiskan sedikit lebih banyak waktu menonton video di layar digital dibandingkan menonton TV.
Kesenian islam seperti kaligrafi dapat dipromosikan lewat video singkat yang dijembatani oleh Tiktok, dengan memberikan tutorial bagaimana teknik awal menggambar kaligrafi sesuai dengan nama khot nya dan ciri khasnya , melukiskan warna yang baik dan berbagai proses lainnya. Begitu juga dengan seni tilawatil qur’an. Terdapat berbagai influencer yang membagikan teknik membaca qur’an dengan irama-irama yang ada. Terdapat tujuh irama yang boleh diamalkan Bayyati, Hijaz, Shaba, Rast , Jiharkah, Sika dan Nawahand. Dewasa ini banyak pemuda yang terjun di dunia Tiktok dengan skill berdakwah yang kekinian. Seperti akun dengan nama “fackeyciao” yang menurut penulis akun berbobot dengan kajian kitab membahas permasalahan fikih dan tafsir. Dengan berbagai fasilitas teknologi modern memudahkan kita mendapatkan akses informasi apapun, salah satunya belajar tafsir dengan mudah dan menarik lewat video yang ada di Tiktok.
Menurut hemat penulis, aplikasi Tiktok membawa manfaat yang begitu luar biasa dimasa pandemik. Mulai dari branding, marketing, tutorial hingga konten edukasi bisa dikemas secara apik dan menarik. Terlebih dalam kesenian islam, diharapkan pemuda mau berkontribusi dalam kebaikan, tidak hanya menonton hiburan saja, namun ia mau mempromosikan skill of art yang ia miliki. Di situasi yang tegang seperti ini, Tiktok sangat membantu sebagai media hiburan yang dapat menurunkan stress akibat terdampak Covid-19.
Editor : Amal Hayati